Sejarah Radio Republik Indonesia bermula sejak pendiriannya secara resmi pada tanggal
11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa
stasiun radio Jepang
di 6 kota. Rapat utusan 6 radio di rumah Adang Kadarusman Jalan Menteng
Dalam, Jakarta. Sehingga menghasilkan keputusan mendirikan
Radio Republik Indonesia dengan memilih dr. Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama.
Awal mula
Siaran radio yang pertama di
Indonesia (waktu itu bernama
Nederlands Indie -
Hindia Belanda), ialah
Bataviase Radio Vereniging (BRV) di
Batavia (Jakarta Tempo dulu), yang resminya didirikan pada tanggal
16 Juni 1925, jadi lima tahun setelah di
Amerika Serikat, tiga tahun setelah di
Inggris dan
Uni Soviet.
Stasiun radio di Indonesia semasa penjajahan
Belanda dahulu mempunyai status swasta. Karena sejak adanya BRV tadi, maka muncullah badan-badan radiosiarn lainnya
Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM) di
Jakarta,
Bandung dan
Medan,
Solossche Radio Vereniging (SRV) di
Solo,
Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO) di
Yogjakarta,
Verniging Oosterse Radio Luisteraars (VORL) di
Bandung,
Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep (VORO) di
Surakarta,
Chineese en Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) di
Surabaya,
Eerste Madiunse Radio Omroep (EMRO) di
Madiun dan
Radio Semarang di
Semarang.
Di
Medan, selain NIROM, juga terdapat radio swasta
Meyers Omroep Voor Allen (MOVA), yang di usahakan oleh tuan Meyers, dan
Algeemene Vereniging Radio Omroep Medan
(AVROM). Di antara sekian banyak badan radio siaran tersebut, NIROM
adalah yang terbesar dan terlengkap, oleh karena mendapat bantuan penuh
dari pemerintah
Hindia Belanda.
Perkembangan NIROM yang pesat itu disebabkan pula keuntungannya yang
besar dalam bidang keuangan yakni dari "pajak radio". Semakin banyak
pesawat radio dikalangan masyarakat, semakin banyak uang yang diterima
oleh NIROM. Dengan demikian, NIROM dapat meningkatkan daya pancarnya,
mengadakan stasiun-stasiun relay, mengadakan sambungan
telepon khusus dengan kota-kota besar, dll.
Pada waktu itu terdapat saluran telepon khusus antara
Batavia,
Bogor,
Sukabumi,
Bandung,
Cirebon,
Tegal,
Pekalongan,
Semarang,
Solo,
Yogykarta,
Magelang,
Surabaya,
Tangerang,
Depok,
Bekasi,
Malang
yang jumlahnya kira-kira 1,2 juta meter saluran telepon untuk memberi
modulasi kepada pemancar-pemancar di kota-kota itu. Dengan Demikian
NIROM dapat mengadakan siaran sentral dari
Semarang,
Bandung,
Surabaya,
Yogyakarta ataupun
Solo.
Hal itu beda sekali dengan badan-badan radio siaran lainnya yang
berbentuk perkumpulan swasta, terutama yang diusahakan bangsa pribumi,
yang hidupnya dari iuran para anggota.
Munculnya perkumpulan-perkumpulan stasiun radio di kalangan bangsa
Indonesia disebabkan kenyataan, bahwa NIROM memang dapat bantuan dari
pemerintah
Hindia Belanda itu lebih bersifat perusahaan yang mencari keuntungan finansial dan membantu kukuhnya penjajahan di
Hindia Belanda. Pada saat itu pemerintah penjajahan
Belanda menghadapi semangat kebangsaan di kalangan penduduk
pribumi yang berkobar sejak tahun
1908, lebih-lebih setelah tahun
1928.
Sebagai pelopor timbulnya radio siaran usaha bangsa Indonesia ialah Solosche Radio Vereniging (SRV) yang didirikan pada tanggal
1 April 1933. Dalam hubungan dengan itu patut di catat nama Mangkunegoro VII seorang
bangsawan Solo dan seorang Insinyur bernama Ir.Sarsito Mangunkusumo yang berhasil mewujudkan SRV itu.
Sejak tahun
1933
itulah berdirinya badan-badan radio siaran lainnya, usaha bangsa
Indonesia di berbagai kota besar seperti disebutkan di atas, berdirinya
SRV, MARVO, VORL, CIRVO, EMRO, dan Radio Semarang itu pada mulanya
dibantu oleh NIROM,oleh karena NIROM mendapat bahan siaran yang bersifat
ketimuran dari berbagai perkumpulan tadi. Tetapi kemudian ternyata
NIROM merasa khawatir perkumpulan-perkumpulan radio ketimuran tadi
membahayakan baginya.
Pada tahun
1936
terbetik berita, bahwa mulai tahun 1937 "Siaran Ketimuran seluruhnya
akan dikuasai oleh NIROM sendiri". Ini berarti bahwa mulai tahun
1937
subsidi dari NIROM akan dicabut, setidk-tidaknya akan dikurangi, karena
NIROM tidak akan lagi merelay siaran-siaran radio milik pribumi,
setidak-tidaknya kalau terpaksa merelay hanya sedikit sekali. Seperti
diketahui subsidi NIROM itu semula diberikan berdasarkan perhitungan
jam-merelay.
Berita itu cukup menggemparkan orang-orang radio di luar NIROM,
karena pencabutan subsidi itu akan melemahkan badan-badan radio siaran
bersangkutan.
Memang adalah maksud NIROM yang bersandarkan kekuatan penjajahan itu
untuk mematikan perkumpulan-perkumpulan radio siaran ketimuran.
Pada tanggal
29 Maret 1937
atas usaha anggota Volksraad M.Sutarjo Kartokusumo dan seorang Insinyur
bernama Ir.Sarsito Mangunkusumo diselenggaraka suatu pertemuan antara
wakil-wakil radio ketimuran bertempat di Bandung wakil-wakil yang
mengirimkan utusannya ialah : VORO (Jakarta), VORL (Bandung), MAVRO
(Yogyakarta), SRV (Solo) dan CIRCO (Surabaya), pertemuan hari itu
melahirkan suatu badan baru bernama : PERIKATAN PERKUMPULAN RADIO
KETIMURAN (PPRK) sebagai ketuanya adalah : Sutarjo Kartohadikusumo.
Tujuan PPRK yang non-komersial itu bersifat "Sociaal kultureel"
semata-mata memajukan keseniaan dan kebudayaan nasional guna kemajuan
masyarakat Indonesia, rohani dan jasmani.
Pada tanggal
7 Mei 1937
atas usaha PPRK diadakan pertemuan dengan pembesar-pembesar
pemerintahan untuk membicarakan hubungan antara PPRK dengan NIROM.
Pertemuan itu menghasilkan suatu persetujuan bersama, bahwa PPRK
menyelenggarakan siaran ketimuran, NIROM menyelenggarakan segi
tehniknya.
Sejak itu PPRK berusaha keras agar PPRK dapat menyelenggarakan
sendiri sepenuhnya tanpa bantuan dari NIROM.Disebabkan situasi semakin
panas oleh api perang di Eropa yang menyebabkan Negeri Belanda dalam
keadaan sulit yang membutuhkan bantuan rakyat jajahannya, maka
pemerintah Hindia Belanda menjadi agak lunak.
Seperti diketahui, tanggal 1 September 1939 Jerman di bawah pimpinan
Adolf Hitler menyerbu Polandia yang menyebabkan timbulnya perang dunia
II, dan kemudian pada tahun 1940 Jerman menduduki Denmark, Norwegia,
Belgia dan Negeri Belanda.
Pada tanggal 1 November 1940 tercapailah tujuan PPRK yakni menyelenggarakan siaran yang pertama dari PPRK.
Masa Penjajahan Belanda
Jika kita membuka-buka lembaran sejarah radio Indonesia maka akan
nampak bahwa adanya radio untuk pertama kalinya di Indonesia sekitar
tahun 1920an adalah untuk kepentingan penjajah Belanda.
Hubungan yang cepat antara negeri Belanda dengan daerah-daerah
jajahannya seperti Hindia Belanda sangat diperlukan terutama untuk
menyampaikan peraturan dan undang-undang serta berita-berita penting.
Keperluan itu lebih mendesak lagi ketika pecah perang dunia pertema.
Perang Dunia I (1914-1918) memberi pengalaman kepada negeri Belanda.
Ketegangan hubungan melalui telegraf laut antara negeri Belanda dan
Indonesia dari saluran Inggris, yang terlibat dalam peperangan,sangat
menyulitkan Belanda.Hubunga Indonesia Belanda pada waktu itu melalui
saluran telegraf laut,yaitu London-Aden.
Sesudah perang Dunia 1 berakhir, Belanda mencari hubugan langsung
dengan Indonesia, antara lain melalui udara atau radio telegrafi.Belanda
berhasil mendirikan pemencar radio telegrafi di negeri Belanda,yang
kemudian dititngkatkan menjadi hubungan radio telefoni.Seteleh itu
berkembenglah apa yang dinamakan dengan "radio amatir" di
Indonesia,terutama sekali di lingkungan golongan peminat teknik radio
yang sebagian besar adalah orang-orang Belenda.Tenaga-tenaga radio
amatir ini banyak dibantu oleh pegawai teknik PTT.Merka membuat alat
pemancar dan alat penerima sendiri sehingga dapat megadakan hubungan
dengan radio amatir di negara-negara lain yang pada waktu itu sudah
cukup banyak.
Dengan maksud untuk mengobarkan kesadaran radio dikalanga
masyarakat,pemerintah Belanda memberi kesempatan kepada mereka yang
berminat dan memenuhi persyaratan untuk membuat pemencar dan penerima
siaran radio sendiri.
pihak PTT bagian teknik radio memberikan bantuan teknik
seperlunya.Perkumpulan-perkumpulan radio dibentuk dan dapat mengadakan
hubungan satu sama lain.
lambat laun timbul hasrat untuk menyelenggarakan siaran radio dengan programnya.
Lahirlah perkumpulan siaran radio pertama Indonesia pada tanggal 16
Juni 1925 di Jakarta,dengan nama "Bata viase Radio Vereniging" disingkat
BRV yang menurut aktenya didirikan untuk waktu 29 tahun.
BRV didukung oleh wartawan dan pengusaha Belenda ; dengan demikian
sedikit banyak ada tujuan komersil dalam siaranya, berupa propaganda
perusahaan dan perdagangan.Sudah tentu siaran radio yang pertama lahir
di Indonesia ini menggunakan Bahasa Belanda dan tempat siaranya di salah
satu ruangan Hotel des Indes yang terletak disudut Harmoni.
- NEDERLANDS INDISCHE RADIO OMROEP (NIROM)
Dengan berkembangnya siaran radio yang dipelopori BRV, pemerintah
Hindia Belanda menganggap sudah waktuny untuk mengadakan
peraturan-peraturan tentang penyiaran radio (radio omroep).
Pada tahun 1934 diresmikan apa yang disebut "Radiowet" (Undang-undang
Radio).Dengan lahirnya Radiowet diresmikan pula perkumpulan radio yang
di beri nama "Nederlands Indische Radio Omroep atau NIROM.
NIROM dapat lisensi dari pemerintah India Belanda untuk
menyelenggarakan siaran radio dengan program yang lengkap. Kepada NIROM
diberikan hak untuk menerima apa yang disebut "iyuran pendengar"
(Luister bijdrage),sebesar & 1.50 sebulan untuk setiao pesawat
radio. sementara itu kota-kota besar di Pulau Jawa seperti di
Bandung,Cirebon,Tegal,Pekalongan,Semarang,Sala,Yogyakarta,Magelang,Surabaya
dan Malang di dirikan stasiun-stasiun relay.PTT menyediakan pula
saluran telpon khusus untk menghubungkan pemancar NIROM pusat dengan
studio-studio tersebut yang disebut NIROM lijen.NIROM dapat mengadakan
siaran-siaran sentral dari salah satu tempat yang dilalui NIROM Lijin.
Dengan fasilitas-fasilitas tersebut maka NIROM sebenarnya adalah sebuah badan setengah resmi dari pemerintah Hindia Belanda.
Pada tahun pertama programa siaran NIROM dititik beratkan kepada
siaran bahasa Belanda,kemudian di perluas dengan programa "ketimuran"
yang ditujukan kepada pendengar-pendengar bahasa Indonesia.Dengan
pembayaran yang besar,NIROM dapat menarik orkes dan penyanyi
terbaik.Melalui siaran-siaran yang di selingi dengan bermacam-macam
pidato,uraian dan ceramah, NIROM menyebarkan doktrin-doktrin dari
"etische politiek" pemerintah kolonial untuk mengimbangi makin
meningkatnya pergerakan kebangsaan di Indonsia.
Sejak bangkit dan semakinya pergerakan kebangsaan dengan lahirnya
"Sumpah Pemuda" tanggal 28 Oktober 1928,pemerintah Hindia Belanda
menyadari bahwa pergerakan kebangsaan itu sangat membahayakan kekuasaan
kolonialnya dan karna itu harus dihancurkan. Sementara itu di samping
NIROM lahirlah perkumpulan-perkumpulan siaran radio yang suudah mulai
dengan memperhatikan mutu acara. Hal ini merupakan tantangan bagi NIROM.
Dengan pecahnya perang DUNIA II dan didudukinya negeri Belanda oleh
Jerman pada tahun 1940,pemerintah Hindia Belanda mengubah poitiknya di
Indonesia, dengan cara memberikan konsensi politik.Tindakan ini
tercermin juga dalam siaran-siaran NIROM pada tahun 1940.Politik
pendekatan terhadap rakyat Indonesia itu lebih ditingkatkan setelah
pecahnya perang pasifik dan tentara Jepang sudah mendekati Indonesia
pada awal tahun 1942.
- BANGKITNYA RADIO KEBANGSAAN
Dengan progrma-prograna siaran yang baik dan penyelenggaraan acara
siaran yang menarik,NIROM berhasil "mengalihkan" perhatian masyarakat
dari masalah-masalah politik, dan politik golongan pemimpin yang juga
senang kesenian dan kebudayaan,untuk lebih banyak bergerak di bidang
tersebut.
Tidaklah mengherankan jika dalam waktu singkat muncullah
perkumpulan-perkumpulan siaran radio Bahasa Indonesia,yang tujuan
utamanya menyiarkan kesenian dan kebudayaan Indonesia.
Berturut-turut lahirlah SRV (Solosche Radio Vereniging) di kota Solo
pada tahun 1933,VORO(Vereniging Oostersche Radio Omroep) di Jakarta pada
tahun 1934 kemudian VORL (Vereniging Oostersche Radio Luistraas) di
Bandung,CIRVO (Chinesse en Intreemse Radio Luisteraars Vereniging Oost
Jawa)di Surabaya.EMRO (Eerste Madioense Radio Omroep) di Madiun dan
MAVRO (Mataramse Vereneging Voor Radio Omroep) di Yogyakarta.Dan pada
tahun itu pula di Solo muncul lagi sebuah perkumpulan siaran dengan nama
SRI singkatan dari Siaran Radio Indonesia,sedang pada tahun 1936 di
Semarang berdiri Radio Semarang.
Jika awal kelahirannya,siaran-siaran radio bangsa Indonesia itu masih
menggunakan istilah "ketimuran" untuk "Indonesia",maka SRI di Solo
sudah terang-terangan mencantumkan perkataan "Indonesia" pada namanya.
Bagaimana pergerakan kebangsaan tak dapat di bendung.Perlahal-lahan
masuklah unsur politik dalam siaran-siaran radio ketimuran.
Pada tanggal 28 Maret 1937,wakil-wakil dari VORO(Jakarta)
VORL(Bandung) MAVRO(Jogjakarta),SRV (Surakarta) dan CIVRO (Surabaya) di
bawah pimpinan Soetarjo Karto Hadi Koesumo,mengambil keputusan untuk
mendirikan "Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK).
Usul PPRK disetujui oleh pemerintah Hindia Belanda dalam pertemuan di
Jakarta tanggal 7 Mei 1937,yang dirumuskan dalam bahasa Belanda sebagai
berikut : "Ggrondlagen Voor Een regeling tot deelname door de federasi
PPRK aanden Oostersen Omroep in Nederlands-Indie over de Nirom
zenders".artinya : Dasar-dasar bagi peraturan ikut sertanya federasi
PPRK dalam penyelenggaraan siaran ketimuran di Hindia Belenda melalui
pemancar-pemancar Nirom.
Dalam kenyataanya,PPRK masih harus berjuang tiga tahun lebih sebelum
persetujuan tersebut dapat direalisasikan.Pada tanggal 16 Agustus
Soetarjo Karto Hadi Koesumo bersama pemimpin-pemimpin dalam pergerakan
Volksraad,mengajukan mosi dan mosi tersebut disetujui.
Dengan demikian,pemerintah Hindia Belanda terpaksa mengambil
langkah-langkah untuk merealisasikan persetujuan 7 Mei 1937.Namun masih
diperlukan waktu dua tahun,sebelum pemerintah Hindia Belanda menetapkan
dengan surst keputusan tanggal 30 Juni 1940,agar siaran ketimuran
diserahakan kepada NIROM,Siaran PPRK yang pertama melalui pemancar
NIROM,diudarakan tanggal 1 November 1940.
- SOLOSCHE RADIO VERENIGING (SRV)
Secara resmi SRV didirikan tanggal 1 April 1933.Dengan demikian,SRV
lebih dulu mengudara dari pada NIROM.Sebeum SRV didirikan,di Solo sudah
ada pemancar radio yang dihadiahkan oleh SP.Mangkunegara VII kepada
perkumpulan kesenian "Javaansche Kunstkring Mardi Raras
Mangkunegaran",untuk menyiarkan klenengan ketoprak dan wayang orang.
Kekuatan pemancaranya tidak besar,hanya dapat didengar sekitar Solo saja.Sedang jumlah pesawat radio hanya sekitar 20 buah.
Menyadari pentingnya kesenian Jawa untuk dikembangkan,maka atas
prakarsa Ir.Sarsito diusahakan pemancar yang lebih kuat dan dibentuk
perkumpulan khusus untuk penyiaran radio. Maka lahirlah SRV tanggal
1 April 1933. Siarannya selain di daerah Jawa, dapat di tangkap di daerah Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
SRV berkembang dan membentuk beberapa kring diberbagai kota di Jawa yang akhirnya menjelma menjadi perkumpulan radio tersendiri.
Sementara itu tahun
1934 berdirilah
VORO (Vereniging Voor Oostersche Radio Omroep) di
Jakarta,
Masa Penjajahan Jepang
Dalam peperangan di Asia dan Pasifik, Jepang sebagai sekutunya Nazi
Jerman dan Italia di Eropa, mengadakan ekspansi ke arah selatan.
Pada bulan
1 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang, tepat pada tanggal
8 Maret 1942 pemerintah Belanda dengan seluruh angkatan perangnya menyatakan menyerah kalah di Bandung kepada balatentara Jepang.
Sejak tanggal itu dibekas kawasan Hindia Belanda dulu berlaku
pemerintahan militer Jepang atas nama resminya waktu itu Jepang Raya
(大日本 Dai Nippon?).
Sebagai konsekuensinya, segalanya menurut kehendak tentara pendudukan.
Demikain pula radio siaran yang tadinya berstatus perkumpulan swasta
dimatikan dan diurus oleh jawatan khusus bernama Pusat Jawatan Radio
(放送管理局 Hoso Kanri Kyoku?), yang merupakan pusat radio siaran dan berkedudukan di Jakarta. Cabang-cabangnya yang dinamakan Jawatan Radio
(放送局 Hoso Kyoku?) terdapat di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malang.
Di samping stasiun siaran tadi, setiap Hoso Kyoku mempunyai cabang
kantor bernama Shodanso yang terdapat di kabupaten-kabupaten. Kantor ini
mempersatukan semua bengkel atau service radio setempat, sehingga semua
reparasi pesawat radio langsung di bawah pengawasan balatentara.Semua
pesawat disegel, sehingga rakyat tidak bisa mendengarkan radio siaran
luar negeri kecuali ke 8
Hoso Kyoku di Jawa tadi.
Dalam pemerintahan militer sudah tentu semua radio siaran diarahkan
kepada kepentingan militer Jepang semata-mata. Tapi satu hal yang
penting dicatat, ialah bahwa selama kependudukan Jepang itu, kebudayaan
dan kesenian mendapat kemajuan yang pesat. Pada saat itu rakyat mendapat
kesempatan banyak untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian, jauh
lebih dibandingkan dengan zaman penjajahan Belanda. Kesempatan ini
menyebabkan pula munculnya seniman-seniman pencipta lagu-lagu Indonesia
baru.
Radio Sebagai Alat Perang Urat Syaraf
Dengam maklumat resmi Tenno Heika tanggal
8 Desember 1941 perang pasifik mulai berkobar dan Jepang menggunakan siaran radio sebagai alat
psywar atau perang urat syaraf terhadap negara-negara Asia yang hendak dikuasainya.
Semboyan mereka adalah untuk memerdekakan bangsa-bangsa Asia yang
masi dijajag dan selanjutya untuk bersama-sama membangun Asia Timur Raya
yang makmur.
Radio Tokyo setiap malam melancarkan siaran propaganda yang sangat
mengena. Beberapa bulan sebelumnya tentara Jepang mendarat di Indonesia
setiap malam sekitar pukul 22.00 di rumah-rumah orang Indonesia yang
mempunyai pesawat radio, berkerumun orang untuk mengikuti siaran Radio
Tokyo.
Dengan komentar-komentarnya yang sangat tepat, penyiarnya dapat
menciptakan suarana Indonesia merdeka dilingkungan pendengarnya,
seolah-olah kedatangan tentara Jepang di Indonesia sangat
dinanti-nantikan oleh rakyat Indonesia.
Lebih-lebih setelah Philipina, Indonesia Malaya dalam waktu singkat
dapat dikuasai Jepang, setiap orang Indonesia sudah mulai siap-siap
menyambut tentara pembebasan Jepang. Begitu besar pengaruh siaran radio
yang melancarkan propaganda menjelang pendaratan tentara Jepang di
Indonesia pada awal bulan
1 Maret 1942 sehingga tentara Hindia Belanda sebenarnya sudah kalah sebelun bertempur dengan tentara Jepang.
Perang urat syaraf itu makin mengenai sasarannya karena disusul
dengan kenyataan-kenyataan dalam perang yang sebenarnya dan disaksikan
oleh rakyat Indonesia. Kenyataan tersebut diawali dengan tibanya tentara
Jepang di Tarakan, Kalimantan Timur pada tanggal
10 Januari 1942 dan Komandan Belanda di Pulau itu menyerahkan diri pada tanggal
13 Januari 1942.
Seminggu kemudian Balikpapan yang merupakan sumber minyak berhasil
diduduki pula oleh Jepang, dan berturut-turut jatuh ke tangan Jepang
kota-kota Pontianak, Martapura kemudian Banjarmasin.
Dalam gerakannya ke selatan Jepang pada tanggal
14 Februari 1942
menerjunkan pasukan payungnya di Palembang dan dua hari kemudian
Palembang dan sekitarnya berhasil diduduki. Dengan jatuhnya Palembang
maka terbukalah pulau Jawa bagi tentara Jepang.
Dalam menghadapi ofensif Jepang tersebut, pihak sekutu membentuk suatu komando yang disebut
ABDACOM (American British Dutch Australian Command), sedangkan pada akhir [[[Februari]]
1942 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda Van Starkenborgh Stachower pindah dari
Batavia ke
Bandung.
Untuk merebut pulau Jawa Jepang menggunakan tentara ke-16 yang dipimpin oleh Lentnan Jenderal Hitoshi Imamura. Pada tanggal
1 Maret 1942
tentaranya berhasil mendarat di tiga tempat sekaligus, yakni di Teluk
Banten, di Eretan Wetan dekat Indramayu Jawa Barat, dan Kragan dekat
Rembang Jawa Tengah. Pasukan yang mendarat di Banten berhasil menduduki
ibukota Batavia pada tangal
5 Maret 1942,
dan pada hari itu juga Buitenzorg' (Bogor) dapat direbut dan kemudian
bergerak ke Bandung. Sementara itu Pasukan yang mendarat di Eretan
langsung menduduki Subang dan merebut lapangan terbang Kalijati.
Dari gerakan dua arah ini tentara Jepang menuju ke pusat pemerintahan
dan Komando Tentara Hindia Belanda di Bandung dengan gerakan kilat,
sehingga dalam waktu satu minggu saja seluruh Angkatan Perang Serikat di
Indonesia diwakili oleh Letnan Jendral Ter Poorten menyerah tanpa
syarat kepada tentara Jepang. peristiwa itu terjadi setelah diadakan
perundingan di Kalijati pada tanggal 7 Maret 1942 antara Letnan Jendral
Imamura beserta staf dan Gubernur Jendral Tjarda dan Letnan Jendral Ter
Poorten bersama stafnya pula.
Mengenai penyerahan tanpa syarat itu Jendral Ter Poorten
diperintahkan untuk mengumumkannya sendiri kepada pasukan-pasukannya
melalui radio, yang ternyata kemudian dibacakan oleh Kepala Staf. Maka
sejak tanggal 8 Maret 1942 berakhirlah pemerintahan Hindia Belanda di
Indonesia dan dengan resmi di tegakkan kekuasaan Kemaharajaan Jepang.
Radio Sebagai Alat Propaganda Untuk Memenangkan Perang
Patut diketahui lebih dahulu, bahwa berbeda dengan zaman Hindia
Belanda yang hanya terdapat satu Pemerintah Sipil, maka pada zaman
Jepang terdapat tiga pemerintahan militer pendudukan, yakni : - Tentara
ke-16 dipulau Jawa dan Madura dengan pusatnya di Batavia (kemudian
dinamakan Jakarta) - Tentara ke-25 dipulau Sumatera dengan pusatnya di
Bukit tinggi. - Armada Selatan ke-2 di Kalimantan, Sulawesi,
Nusatenggara, Maluku dan Irian dengan pusatnya di Makasar (Ujung
Pandang).
Di Jawa tugas memulihkan ketertiban dan keamanan serta menanamkan
kekuasaan yang sementara lowong itu diserahkan kepada suatu pemeritahan
militer yang disebut Gunseibu, masing-masing meliputi Jawa Barat dengan
pusatnya di Bandung;Jawa Tengah dengan Pusatnya di Semarang dan Jawa
Timur dengan pusatnya diSurabaya. Di samping itu dibentuk dua daerah
istimewa yang disebut Koci, yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Tata
pemerintahan Militer Jepang ini turut memengaruhi juga perkembangan
sejarah radio di Indonesia yang sampai menyerahnya Belanda kepada Jepang
di Jawa terdapat beberapa stasiun radio, baik semi pemerintah (NIROM)
maupun swasta ketimuran (PPRK), yaitu di Jakarta dan pusat-pusat daerah
militer lainnya, Bandung, Semarang, Surabaya, Solo, dan Yogya.
Kota-kota ini, mestinya juga menjadi pusat atau penyalur-penyalur
propoganda Jepang menguasai Indonesia, semua sarana komunikasi massa
seperti surat kabar,majalah, kantor berita, film dsb. Dikuasai dan
dikendalikan oleh penguasa Militer untuk kepentingan perang;lebih-lebih
radio yang pada masa itu merupakan sarana komunikasi massa yang palaing
ampuh. Perkumpulan-perkumpulan atau organisasi penyiaran radio
dibebarkan dan Jepang membentuk sebuah jawatan yang khusus mengurus
siaran radio, dengan nama Hoso Kanri Kyoku, beserta cabang-cabangnya
yang dinamakan Hoso Kyoku. Pusatnya tetap di Batavia yang kemudian
dinamakan Jakarta dan cabang-cabangnya berada di Bandung,Semarang,
Yogyakarta, Surakarta, Surabaya kemudian ditambah di Purwokerto dan
Malang.
Di samping stasiun-stasiun ini, setiap Hoso Kyoku membentuk
kantor-kantor cabang di kota-kota kabupatennya yang dinamakan Shidanso.
Kantor ini mempersatukan semua bengkel-bengkel service radio setempat
dan segala reparasi serta pemeriksaan pesawat penerimaan milik umum
harus dilakukan di satu tempat dan langsung di awasi oleh Jepang.
Kantor ini kemudian juga menyegel gelombang siaran luar negeri semua
pesawat radio dan memasang radio-radio umum di tempat-tempat radio yang
ramai atua yang mudah dikerumuni oleh orang banyak.Dengan peraturan
tersebut maka rakyat tidak boleh dan tidak dapat mendengarkan
siaran-siaran dari 8 cabang Hoso Kyoku di Jawa.
Di luar Jawa, baik di Sumatera yang juga dikuasai oleh AD dean
pulau-pulau lainnya yang dikuasai oleh AL, stasiun-stasiun radio yang
ada juga dikuasai sepenuhnya oleh militer Jepang, dan tidak ada
hubungannya dengan pulau Jawa. Seperti diuraikan terlebih dahulu, Jepang
menggunakan siaran radio sebagai alat perang urat saraf dan propaganda
sejalan dengan tujuan "Perang Asia Timur Raya" atau mereka sebut Dai Toa
Senso.
Sampai 6 bulan pertama sejak Jepang menduduki Indonesia Hoso Kyoku
Jakarta memang masih menyelenggarakan siaran dalam bahasa Belanda di
samping mengusahakan siaran-siaran dalam bahasa Inggris, Prancis dan
Arab. Tetapi setelah itu siaran-siaran dalam bahasa Belanda dihapuskan
sama sekali, bersamaan dengan kebijaksanaan yang mereka tempuh dibidang
pendidikan, yaitu melarang sama sekali penggunaan bahasa Belanda dan
asing lainnya di sekolah-sekolah. Sebaliknya penggunaan bahasa Indonesia
dikembangkan karena bahasa Indonesia dijadikan satu-satunya bahasa yang
digunakan disekolah-sekolah atau kantor-kantor. Bukan hanya itu; nama
toko perdagangan umumnya,nama-nama tempat umum seperti tempat renang,
stadion, taman dsb serta nama-nama jalan yang semula menggunakan bahasa
Belanda atau bahasa asing lainnya, diganti denagn nama Indonesia atau
Jepang.
Memang Bahasa Jepang kemudian dijadikan mata pelajaran wajib
disekolah-sekolah, di samping bahasa Indonesia. Juga melalui radio
diadakan siaran pelejaran bahasa Jepang. Lebih dari itu murid-murid dan
pelajar serta masyarakat umum mendapat gemblengan "Semangat Jepang" atau
Nipon Seisyin, semangat anti penjajah, anti Inggris-Amerika, anti
Asing.
Selanjutnya ditanamkan pula Busyido Seisyin atau semangat kesatria
Jepang yang taat dan hormat kepada orang tua, pemimpin dan akhirnya
kepada raja. Usaha itu antara lain dilakukan dengan latihan kemiliteran
dan pendidikan jasmani. Ber-taiso atau senam pagi secara masal bahkan
dikomando melalui radio dari Jakarta yang disiarkan secara sentral
dilakukan serntak oleh murid-murid sekolah dasar, pelajar-pelajar
sekolah lanjutan, pegawai-pegawai kantor pemerintah dan swasta serta
masyarakat umum, setiap pagi sebelum mulai belajar atau bekerja. Acara
siaran ini disebut "Radio Taiso".
Propaganda Jepang Menjadi Bumerang
Jika pada awal kedatangan Jepang di Indonesia, segala bentuk
propaganda mencapai sasaran yang dituju karena memang sesuai dengan
kenyataan yang menyertainya, maka lama-kalamaan, terutama mulai akhir
1944 setelah Jepang menderita kekalahan dihampir semua medan perang
pasifik, propaganda yang mereka lancarkan justru menjadi arus balik atau
bumerang yang memukul kembali diri sendiri. Semakin terdesak kedudukan
pasukan-pasukan Jepang dimedan pasifik, semakin berani nasionalisme
Indonesia memberikan perlawanan terhadap militerisme Jepang, baik secara
terbuka, berupa pemberontakkan dan pembangkangan, maupun secara
diam-diam mulai mengatur barisan.
Dibidang radio, semakin banyak pula pemimpin kita yang mendengarkan
berita-berita luar negeri sehingga semakin menjadi jelas situasi
peperangan. Dikalangan orang-orang radio, situasi ini mulai
diperhitungkan kumungkinan-kemungkinan apa yang bakal terjadi dan apa
pula yang harus dilakukan mengingat radio merupakn sarana komunikasi
massa yang ampuh.
Setelah peperangan di Indonesia berakhir dengan menyerahnya Jerman
pada tanggal 5 Mei 1945, sebenarnya sudah dapat di ramalkan bahwa
peperangan di pasifik akan segera berakhir pula. Daerah-daerah di
kawasan subkontinen
Asia Timur,
Asia Tenggara,
Asia Selatan, dan
Asia Pasifik
yang pada awal pecahnya perang pasifik dapat di rebut tentara jepang
dengan kecepatan kilat, maka pada awal tahun 1945, satu demi satu jatuh
kembali ketangan sekutu.berita mengenai hal ini dapat di ketahui melalui
observasi siaran radio asing yang kita lakukan "di bawah tanah". bulan
desember 1944 pasukan gerilya amerika yang di terjunkan dari udara
mengamuk dari belakang garis pertahanan jepang, kemudian menduduki
Mindoro,
Filipina. Pada bulan Januari 1945 tentara amerika mengijakkan kaki di pulau luzon. Kota
Manila kemudian jatuh ketangan sekutu pada bulan febuari 1945. Sementara itu
Angkatan Laut Amerika Serikat merebut saipan,guam dan lain-lain. Sekutu maju dengan cepat. Pulau
Okinawa dan
Iwojima
setelah melalui pertempuran hebat dapat di duduki amerika. dengan di
rebutnya,kedua pulau tersebut Jepang seluruhnya dengan leluasa dapat di
serang dari udara. sementara itu dari jurusan india tentara inggris maju
ke birma menuju ke malaya,hongkong dan serawak. tanggal 1mai 1945
divisi ke-9 australia mendarat di tarakan dengan tidak mengalami
perlawanan jepang. pasukan komando Australia itu menduduki pulau sadu
setelah menghujani tembakan-tembakan dari laut dan udara. Jepang yang
bertahan mai-matian tidak berdaya sehingga pangkalan udara dapat di
rebut sekutu. dalam 24 hari pulau tersebut jatuh ketangan sekutu divisi
ke-7 australia pada 1 juli 1945 mendarat di balik papan di sertai
jendral mac arthur dan merebut lapangan udara sepingan. percobaan
serangan penyusupan kembali jepang berhasil di gagalkan, sedangkan
pertahanan batu campar dan sumberminyak samboja jatuh ke tangan sekutu.
pertempuran-pertempuran terus menghebat karna jepang mempertahankan tiap
tapak kubuhnya dengan sangat tabah, terus sampai bulan agustus 1945.
berita-berita peperangan yang semakin mendebarkan hati di indonesia
adalah kejadian-kejadian awal agustus seperti berikut:
- 1 Agustus sejumlah 820 "benteng udara" amerika membom kota-kota di jepang selatan.
- 2 Agustus terjadi pemboman yang seru atas kota fikuoka di pulau kyushu dab marushima.
- 3 Agustus laksamana zimitz manyatakan bahwa " benteng-benteng udara "
amerika telah menutup pelabuhan-pelabuhan jepang dan korea sehingga
blokade menjadi sempurna.
- 4 Agustus jendral mac arthur menyatakan behwa tentaranya dari
kepulauan ryuku dan filpfina sudah bersiap-siap untuk menyerbu ke
jepang.
- 5 Agustus kota-kota di pulau kyushuy dan beberapa tempat lainnya di serang oleh 400 pesawat amerika.
- 6 Agustus kota hiroshima di jatuhi bom atom yang pertama oleh
benteng udara amerika.kota lain di ancam pula dengan pemboman demikian.
kabinet jepang segera bersidang.
- 7 Agustus pangkalan angkatan laut toyakoma di bom oleh benteng udara amerika.
- 8 Agustus pesawat-pesawat pembom ameriaka menghantam pusat-pusat
militer dan perindustrian jepang.dalam pada itu rusia mengumumkan perang
terhadap jepang dari operasi panglima tentara sekutu di pasifik nampak
jelas arah tujuannya yaitu akan langsung menuju kejantung negara
"matahari terbit" lebih-lebih setelah rusia menyatakan perang terhadap
jepang pada saat jepang sudah mulai lumpuh.
Apabila di Medan perang Eropa tentara Inggris dan Amerika
berlomba-lomba dengan tentara Uni Soviet untuk lebih dulu merebut kota
Berlin, maka di Pasifik, tentara Amerika berlomba pula dengan tentara
Uni Soviet untuk lebih dulu menduduki Jepang. Di kalangan
pemimpin-pemimpin kita, khususnya angkatan mudanya yang secara rahasia
terus mengikuti siaran-siaran radio sekutu melalui pesawat radio yang di
sembunyikan dari penyegalan Bala Tentara Jepang dapat mengetahui bahwa
tentara Amerika Serikat akan mendarat diIndonesia dari jurusan Timur,
yakni dari sekitar kepulauan Irian dan Maluku Utara. Sedangkan tentara
Inggris dalam bulan September akan mendarat di Semenanjung Malaya.Tetapi
kapan tentara Amerika mendarat di Indonesia, belum diketahui secara
pasti. Sementara itu situasi peperangan di Pasifik makin menegangkan
karena pada tanggal 19 Agustus 1945 Amerika Serikat menjatuhkan bom
atomnya yang ke-2 di Nagasaki, dan hari berikutnya tanggal 10 Agustus,
radio tokyo menyiarkan kesediaan Jepang untuk menyerah menurut
pasal-pasal perjanjian Postdam. Kesedian Jepang untuk menyerah ini
bukannya menurunkan suhu peperangan, bahkan justru memanaskan perlombaan
antara Amerika dan Uni Soviet untuk lebih dahulu menduduki Jepang.
Perlombaan ini semakin nampak dalam peningkatan Amerika pada tanggal 12
Agustus yang membomi daerah Tokyo, sedangkan angkatan udara mengamuk di
Korea.Perlombaan perang panas ini di barengi dengan perang urat saraf.
Pihak Moskow mengumumkan bahwa tentara Marsekal Malinovski telah maju
sejauh 200 mil dalam tempo 4hari. Akan tetapi, pada tanggal 14 Agustua
1945 tiba-tiba Presiden Amerika Serikat, Truman dan perdana menteri
Inggris Attle mengumumkan penyerahan Jepang tanpa syarat dan Kaisar
Jepang memerintahkan seluruh Balatentara Dai Nippong untuk menghentikan
perlawanan. Pengumuman semua pihak yang terlibat dalam perang ini
dipancarluaskan melalui siaran radio masing-masing kesegenap penjuru
dunia dan dapat ditangkap pula oleh Indonesia oleh pemimpin-pemimpin dan
angkatan muda kita yang memonitor siaran-siaran tersebut secara
rahasia. Tidak ketinggalan pula dikalangan orang-orang radio sendiri.
Beberapa hari sebelum itu, menjelang "Sekaratul maut" nya Balatentara
Jepang di Pasifik, penguasa perang tertinggi Jepang untuk seluruh daerah
Asia Tenggara Jenderal Terauci memanggil 3 tokoh pergerakan nasional
Indonesia yaitu Ir.Soekarno, Drs. Moh Hatta dan Dr. Radjiman
Wediodiningrat untuk datang kemarkas besarnya di Saigon. Dalam suatu
pertemuan di Dalath ( Vietnam Selatan ) pada tanggal 12 Agustus 1945,
Jenderal Terauci menyampaikan pada ke-3 pamimpin Indonesia tersebut
keputusan pemerintah kemaharajaan Jepang untuk memberikan kemerdekaan
Indonesia. Sebaliknya dikalangan angkatan Muda yang sejak bulan Juni
1945 telah siap-siap menghadapi kekalahan Jepang, lebih menghendaki
mencapai kemerdekaan dengan kekuatan sendiri, terlepas dari pengaruh
Jepang. Oleh karena itu setelah ke-3 pemimpin Indonesia tersebut kembali
dari Dalath, maka pada tanggal 15 Agustus, para pemuda mendesak
Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia kalau
mungkin pada hari itu juga. Desakan tersebut di ajukan karena pada hari
itu mereka telah mendengar berita radio luar negeri bahwa Jepang telah
menyerah kepada sekutu.
Babak Baru Dalam Penyiaran Radio di Indonesia
Telah disinggung di depan bahwa kalahnya Jepang terhadap sekutu sudah
diperhitungkan oleh pemimpin-pemimpin dan angkatan muda Indonesia yang
selalu mendengarkan radio luar negeri sejak akhir bulan Juli 1945.
Lebih-lebih setelah BBC London pada tanggal 26 Juli 1945 menyiarkan
Ultimatum tentara sekutu yang pertama supaya Jepang menyerah. Ultimatum
tersebut di ulangi pada tanggal 11 Agustus 1945 setelah dijatuhkannya
bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Baru pada tanggal 14 Agustus 1945,
BBC menyiarkan secara pasti pernyataan penyerahan Jepang tanpa syarat
oleh Tenno Heika, tetapi pemerintah Jepang di Jakarta masih
menutup-nutupi peristiwa menyerahnya Jepang tersebut. Betapa pun
peristiwa itu ditutup-tutupi, dari tingkah laku dan wajah orang-orang
Jepang nampak sekali perubahannya. Dikalangan radio, orang-orang Jepang
menjadi curiga terhadap orang-orang Indonesia dan menyensor lebih keras
naskah-naskah dan bahan-bahan siaran yang hendak di siarkan di tiap-tiap
Hoso Kyoko(stasiun radio Jepang). Akhirnya setelah kemerdekaan
Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, maka atas
perintah Hoso Kanri Kyoku, pada tanggal 19 Agustus 1945 semua Hoso Kyoku
dihentikan kegiatannya. Selamanya berkuasanya pemerinta militer Jepang
di Indonesia boleh dikatakan merupakan babak baru bagi penyiaran radio
di Indonesia. Babak baru ini ditandai dengan beberapa hal : a.
Terpusatnya radio dalam 1 tantangan yaitu tangan penguasa dengan suara
resmi pemerintah. Di luar radio pemerintah tidak ada radio lain. Radio
amatirpun tidak di perbolehkan. b. Dititik-beratkan siaran radio kepada
usaha perang;tegasnya sebagai alat untuk memenangkan perang. c.
Diharuskannya rakyat untuk hanya mendengarkan siaran-siaran radio
pemerintah. untuk itu, semua pesawat radio disegel gelombang pendeknya.
d. Dilarangnya penyiaran lagu-lagu barat dan penggunaan bahasa asing
dalam penyiaran dalam negeri. Memang di dalam babak baru ini terdapat
segi-segi negatif dan positifnya. Di antara segi-segi negatifnya ialah
tidak adanya kebebasan pemilik radio untuk mendengarkan siaran yang
diinginkannya. Sebaliknya adanya sistem radio umum, bagi masyarakat
merupakan kesempatan yang baik untuk mendapatkan keterangan dan
penerangan tentang keadaan negara dan perkembangan situasi perang,
sekalipun dari satu pihak. Di antara segi-segi positifnya kita catat
bahwa larangan penyiaran musik dan lagu-lagu barat dan penggunaan bahasa
asing, mendorong para penyelenggara siaran dan seniman musik untuk
memproduksi musik dan lagu-lagu Indonesia sebanyak-banyaknya di samping
mendorong peningkatan penggunaan bahasa Indonesia. Harus diakui , selama
3 setengah thun, Jepang telah memperkaya perbendaraan musik Indonesia
dengan ratusan lagu Indonesia baru yang sebagian masih merupakan lagu
yang populer hingga sekarang. Segi positif lainnya ialah, semangat
kebangsaan yang dikobar-kobarkan oleh siaran radio. Sekalipun
pidato-pidato dan komentar radio di tujukan kepada musuh-musuh Jepang (
Amerika, Inggris dan Belanda ) siaran-siaran anti Imperialis-Kolonialis
itu telah membangkitkan semangat kebangsaan dan kemerdekaan bagi rakyat
Indonesia. Khusus bagi Angkatan Muda, semangat tersebut berkembang
dengan hangatnya, menjadi semangat rela berkorban jiwa dan raga untuk
membela tanah air dan bangsanya. Pada hakikatnya, siaran radio dimasa
pendudukan Jepang telah mempersiapkan rakyat Indonesia dan mendorong
matangkan Angkatan Mudanya yang memasuki pintu gerbang kemerdekaan
Indonesia. Akibat disegelnya semua gelombang pada pesawat-pesawat radio
milik umum oleh penguasa Jepang, maka berita mengenai menyerahnya Jepang
kepada sekutu diketahui agar terlambat oleh masyarakat Indonesia. Namun
berkat keberaniaan para pejuang kita yang melakukan gerakan di bawah
tanah dan selalu mengikuti perkembangan perang Pasifik melalui
siaran-siaran luar negeri. Kemudian diketahuilah secara pasti bahwa
Jepang telah kalh dalam Dai Toa Senso ( Perang Asia Timur Raya ) dan
menyerah kepada sekutu tanpa syarat pada tanggal 15 Agustus 1945. Berita
inilah yang mendorong angkatan muda Indonesia mendesak Soekarno-Hatta
untuk segera memproklamasikan kemerdekaan pada esok harinya tanggal 19
Agustus 1945, sedangkan kedua pemimpin tersebut tidak dapat melepaskan
tanggung jawabnya sebagai ketua dan wakil ketua panitia persiapan
kemerdekaan Indonesia (PPKI). Kedua pemimpin tersebut tetap hendak
membawa persoalan itu kedalam sidang PPKI yang sudah dijadwalkan untuk
diadakan pada tanggal 18 Agustus 1945. Akibat adanya pendapat antar
golongan tua dan golongan muda ini telah menimbulkan suatu drama yang
dikanal sebagai " peristiwa rengasdengklok ". Ketegangan suasana selama
dua hari antara tanggal 15 dan 17 Agustus 1945 ini terasa sekali
diJakarta dan sekitarnya, tidak terkecuali orang-orang radio bagi
penyiaran proklamasi kemerdekaan, apabila saatnya tiba nanti.
Masa Revolusi Fisik (1945 - 1950)
Pada tanggal 13 September 1945, Maladi mengadakan pertempuran dengan
pemimin-pemimpin Bagian Solo HOSO Kyoku untuk menyampaikan
keputusan-keputusan rapat 11 September di Jakarta. Kemudian Kepala Hoso
Kyoku,Yasaki dam Kepala Siaran Yamamoto di beri tahukan hasil komperensi
radio di Jakarta, kecuali mengenai penyerahan pemancar yang masih di
rahasiakan mereka tidak keberatan diadakannya pertemuan dengan semua
pegawai radio untuk mendengar keterangan-keterangan Maladi tentang
berdirinya Radiio Republik Indonesia.
Juga pengibaran sang merah putih di studio pada pertemuan itu mereka
setujui. Pada pertemuan 15 September di studio, orang - orang Jepang
tidak hadir. Semua pegawai Solo Hoso Kyoku termasuk tenaga- tenaga
karawitan dan musik menyatakan sumpah stia sebagai pegawai Radio
Republik Surakarta. Niatan Tersebut di lakukan secara tertulis dalm satu
daftar kolektif di sertai tanda tangan masing- masing.
Semetara itu RRI Surakata mendapat undangan dari pimpinan Kantor
Berita Nasional Antara untuk menghadiri pertemuan di Bandung yang di
selenggarakan pada tanggal 19 September 1945.Pertemuan tersebut
membicarakan pembentukan kantor kantor cabang Antara di daerah- daerah,(
Kantor pusatnya sudah berdiri kembali sejak 3 September 1945).
Dari RRI Surakarta di utus Pujoartono dari bagian teknik. Sekitar
tanggal 19 September kota Solo diramaikan dengan berita- berita bahwa
tentara Belanda telah masuk Indonesia. Dimana -mana di adakan
rapat-rapat oleh KNI daerah, DKR, Organisasi kelaskaran dan Angkatan
Muda Indoesia (AMI) untuk membicrakan persiapan mengahdapi perang dengan
Belanda.Menghadapi perang denagn Belanda.Waktu itu Maladi terpilih
sebagi ketua AMI dan harus memimpin rapat-rapat AMI.
Kesempatan itu di pergunakan untuk membicarakan penguasan
pemancar-pemancar Jepang ssecepat mungkin,agar siaran radio dapt di buka
kembali. Dengan menunjukan kepada Yasaki dan Yamamoto suasana perang di
kota itu,Maladi berhasil mendesak mereka untuk memulai lagi dengan
siaran-siaran sejak tanggal 26 September. Mengenai penyerah
pemancar-pemancar kepada RRI, orang-orang Jepang minta waktu, karena
mereka harus inta izin dulu dari Jakarta. Sehari kemudian Kepala Siaran
Solo Hoso Kyoku, Yamamoto memberi tahukan bahwa dari Jakarat ada
perinatah untuk merelaynya siaran dari Jkarta pada jam 19.00.Siaran
apa,mereka sendiri tidak tahu. Kemudian Maladi menghubungi Semarang
untuk menayakan apakah juga menerima intruksi tersebut dari Jakarta.
Berdasarkan informasi dari Soehrdai (RRI) yang akan berpidato adalah
Van der Plas, bukannya PResiden Ri untuk itu di putuskan RRI Solo,
Yogyakarta dan Semarang tidak akan merelay Jkarata pada jam 19.00,
melaikan menyiapakn acara-acara RRI sendiri sampai jam 20.00. Soehardi
(RRI Semarang) menjawab bahwa instruksi itu dari pihak Jepang dan kita
tidak perlu mentaati perintah mereka kecuali jiak yang pidato Presiden
Republik Indonesia. Pada jam 18.00 semau hadir di Studio untuk mengambil
langkah-langkah seperlumya Pada jam 18.30 Mladai menerima telepon
Soehardi dari Semarang, yang secara singkat memberitahu: jangan relay
yang pidato Van de Plas - teruskan Soemadi.Yogyakarta segera dihubungi,
dan pada jam 7 malam : 19.00 studio-studio tri tunggal Solo Yogyakarta
dan Semarang menyiarkan acara- acara RRI sendiri samapi jam 20.00.
Yamamoto yang juga hadir di studio di beritahu mengapa Solo tidak
merelay Jakarta.
Mala itu juga Maladi membicarakan denaga Kepala Solo Hoso Kyoku
Yasaki, supaya segera diadakan penyerahan atas semua pemancar dan
alat-alat radio,karena bangsa Indonesia sudah harus berperang dengan
Inggris, yang ternyata sudah menyelundupkan orang-orang Belanda. Apakah
Yasaki sudah menerima instruksi dari okonagidari Jakarta atauukah
melihat suasana perang di Solo, yang semakin meningkat, kurang jelas.
Tetapi ia menyatakan bersedia menyerahkan seluruh kekuasaan kepada
Maladi. Ia meminta supaya penyerahan kekuasaan itu dilakukan dalam suatu
upacara pada tanggal 1 Oktober 1945.
Bertempat di Kantor Solo Hoso Kyoku Balapan 199, Yasaki
menandatangani naskah penyerahan kekuasaan atas Solo Hoso Kyoku dalam
bahasa Jepang dan Indonesia tepat pada jam 10.00 pada tanggal 1 Oktober
1945.
Sebagai balas budi Yasaki, Yamamoto dan Kono ( Kepala Teknik )
diberitahu. Dengan penyerahaan kekuasaan oleh Yasaki kepada Maladi atas
Solo Hoso Kyoku pada tanggal 10 Oktober 1945, maka bagian pertama dari
program RRI di Surakarta telah terlaksana. Keselamatan mereka di Solo
dan kemudian di tempat kosentrasi orang-orang Jepang di Baros Tampir
akan di jamin.
Maladi berani memberi jaminan itu, karena menurut keputusan KNI
Surakarta, pengangkutan orang-orang Jepang, dari Solo ke Baros Tampir
diserahkan kepada AMI dengan pengawalan BKR. Perlu pula dicatat, bahwa
pada hari-hari sekitar 1 Oktober Komandan Tentara Jepang di Surakarta
menyerahkan senjata dan alat-alat perang Jepang pada KNI yang diwakilli
oleh DJatikusumo. Beberapa waktu kemudian menyusul penyerahan
gudang-gudang di seluruh keresidenan Surakarta, berisi bahan makanan,
pakaian, kertas dan segala macam baranng lainnya yang dikuasai Jepang
kepada KNI termasuk pula gedung untuk kantor dan hotel-hotel dan
rumah-rumah yang dipakai oleh orang-orang Jepang.
Urusan gedung-gedung dan lain-lain tersebut juga diserahkan kepada
AMI. Kedudukan AMI waktu itu sangat penting. Dalam pimpinan KNI
Surakarta ketua AMI menjadi anggota, sehingga ketua AMI Surakarta selalu
diikutsertakan dalam semua masalah yang bersangkutan dengan pemerintah
di Surakarta, dan urusan orang-orang Jepang. Dalam kedudukan sebagai
ketua AMI itu, Maladi tidak sulit untuk mengusahakan biaya-biaya untuk
RRI Surakarta dari KNI. Dalam hubungan ini perlu disebut nama Dr.
Kartono anggota pimpinan KNI, yang memberi bantuan besar terhadap RRI,
sehingga seluruh kebutuhan biaya RRI d Surakarta sejak Oktober 1945
sampai ada keputusan Pemerintah Pusat tentang status RRI, dibayar oleh
KNI / Pemerintah Surakarta sebagai pinzaman yang akan diperhitungkan
dengan Pemerintah Pusat Tetapi itu tidak berarti bahwa RRI Surakarta ada
di bawah pengawasan atau urusan Pemerintah Surakarta. RRI dalam segala
hal tetap bertanggungjawab kepada RRI Pusat. 2. Persiapan mengahadapi
kemungkinan perang. Solo memilih kompleks Gunung Lawu sebagai basis
radio gerilya, dan kota Tawang mangu sebagai pusatnya. Tawamangudi zaman
Belanda maupun zaman Jepanng menjadi tempat peristi rahatan orang-orang
kaya dari Solo, sehingga banyak rumah-rumah / bungalow dan villa yang
baik. Dari Tawang manngu ada jalan menuju Sarangan di daerah Madiun yang
dapat dilalui jeep Ke Selatan bannyak jalan menuju ke Wonogiri, sedang
ke Utara menuju daerah Sragen. Dengan jalan- jalan tersebut Tawangmangu
merupakan satu titik persaingan yang strategis dalam perang girilya.
Mulai dari Kerangpandan sampai Tawangmangu, yang panjangnya kurang
lebih 15 km, jalannya terus menanjak dengan bulut bukit dan
jurang-jurang diselah kiri dan kanan sehingga dengan pertahanan yang
baik, musuh tidak dapat mudah mencapai Tawangmangu.
Setelah terbentuk tentara keamanan rakyat di Surakarta yaitu Divisi X
Panembahan Senopati, maka Tawangmangu berada dalam daerah komando
militer Batalion Lawu. Komandannya seorang Letnan Kolonel bernama Sastro
yang kemudian dikenal sebagai Sastro Lawu. Pimpinan RRI Surakarta
Maladi juga diangkat sebagai Komandan Batalyon Perhubungan (PHB) Divisi X
dengan pangkat mayor, sehingga kenal baik dengan Letkol Sastro Lawu.
Atas bantuan RRI diberi 9 buah rumah villa bekas milik Belanda, semua
terletak didesa Ombang-ombang di atas Tawangmangu. Selain 9 buah rumah
tersebut, untuk keperluan RRI masih dapat disediakan beberapa rumah lain
di Tawangmangu sendiri, Di sekitar lapangan olahraga (Sport Park).
Rumah yang terbesar segera disiapkan untuk studio darurat dan sebuah
rumah lagi untuk gedung pemancar dan peralatan teknik radio. Rumah-rumah
lainnya disediakan untuk para pegawai siaran dan teknik.
Dari PTT RRI mendapat bantuan saluran telepon khusus untuk modulasi pemancar yang dihubungkan oleh Stasiun Solo.
Setelah persiapan-persiapan tersebut dikerjakan,sebuah dari 3
pemancar Solo diangkut ke Tawangmangu, yaitu pemancar SRV lama, RCA.
Sebuah pemancar SRV berasal dari PTT,tetapi di Solo,tetapi ditempatkan
di luar studio. Yang tinggal distudio hanya pemancar kecil untuk siaran
lokal. Persiapan-persiapan di Tawangmangu dapat diselesaikan dalam bulan
Oktober,berkat bantuan Komandan Bataliyon Letkol Sastro Lawu.
Kompleks pemancar tersebut juga diberi pengawalan tentara, sehingga
pegawai-pegawai teknik RRI, yang bertugas di Tawangmangu dapat bekerja
dengan tentram dan aman. Seperti diramalkan, tentara Inggris tidak hanya
mendaratkan pasukan-pasukannya di Jakarta, tetapi juga di Semarang dan
Surabaya, kemudian di Medan,Padang dan Palembang. Bentrokan-bentrokan
semakin meluas sehingga akhirnya timbul pertempuran-pertempuran di
Bandung,Semarang dan Surabaya. Di Surabaya pertempuran-pertempuran
terjadi 2 gelombang. Yang pertama antara tanggal 28-30 Oktober, dan yang
kedua mencapai puncaknya pada tanggal 10 November.
Menjelang pertempuran pertama tanggal 28 Oktober Pemimpin Umum RRI
Dr. Abdulrachman Saleh yang membawa surat dari Presiden Ri, datang di
Surabaya Dari Solo didampingi oleh Soemardi dan Soedomomarto dari
Yogyakarta serta Oetojo dan Soegito dari Solo. Maksudnya untuk
mengeluarkan pemncar-pemancar radio yang besar-besar milik angkatan laut
Jepang dari Surabaya Missi tersebut berhasil dengan dapat diangkutnya
beberapa pemancar keluar kota tepat pada waktunya.
Tetapi rombongan Dr. Abdulrachman Saleh terpaksa menempuh route lain
untuk kembali ke Solo berhubung adanya pertempuran-pertempuran yang
meluas keseluruh kota.
Pemancar-pemancar yang dikeluarkan dari Surabaya itu diangkut ke Kediri.
Pemancar-pemancar tersebut sebuah di antaranya kemudian dipakai untuk
siaran keluar negeri dari Kediri dengan "Stasion Call Radio
International Indonesia" RRI yang dibiayai langsung oleh Perdana Mentri
Sutan Syahrir.
Di Semarang pertemburan berkobar mulai tanggal 20 November, sampai
tentara Inggris melakukan pemboman atas kota Semarang. Pemancar-pemancar
dan alat-alat RRi dapat diangkut keluar, sebagian ke Pati, sebagian ke
Pekalongan dan sebagian lagi ke Salatiga.
pasukan - pasukan Inggris dari Semarang juga bergerak sampai
Magelang, tetapi terpaksa kembali karena gempuran - gempuran TKR dan
Laskar - laskar rakyat di sepanjang jalan Magelang Ambarawa.
Studio - studio RRI Surakarta dan Yogyakarta tidak luput dari pemboman angkatan udara Inggris.
Surakatra pada tanggal 25 November, Yogyakarta pada tanggal 25 dan 27 November.
Studio RRI Surakarta dihujani dengan bom dan roket, tetapi hanya
mengalami kerusakan ringan. sekalipun andaikata studio terkena tepat,
siaran dari solo tidak akan terhenti karena distudio sudah tidak ada
sebuah pemancar pun.
Dua buah pemancar besar sudah diamankan, sebuah di Tawangmangu dan
sebuah lagi di Jebres, Solo, sedang pemancar kecil ada di ruang studio.
Sore harinya RRI Surakarta sudah berkumandang di udara dari studio
darurat dirumah Darmosoegondo pasar Legi No. 7. Gedung siaran RRI
Yogyakarta, bekas gedung Nilmij mengalami kerusakan yang agak berat
akibat pemboman yang kedua kalinya tanggal 27 November. pada pemboman
pertama tanggal 25 November sebagian besar dari bom - nom roket Inggris
jatuh di alun - alun utara sebelah selatan gedung siaran RRI. Pemancar -
pemancar RRI semua selamat dan kemudian di pindahkan ke Terban Taman.
menurut perhitungan kaum politisi di Jakarta, RRI Surakarta, Yogyakarta,
Semarang dan lain - lainnya pasti mengalami malapetaka dan Radio
Republik Indonesia menjadi badan penyiaran radio tanpa radio.
Pengalaman kita dengan tentara Inggris yang baru sebulan berada di
Indonesia, lebih menebalkan keyakinan akan kebenaran perhitungan kita,
bahwa peperangan yang lebih besar akan berkobar di Indonesia.
3. Siaran Luar Negeri RRI
Nama RRi sejak Pertempuran - pertempuran di Surabaya semakin meluas dikenal di seluruh Indonesia.
RRI semakin dicintai oleh rakyat, karena siaran - siarannya mereka
rasakan menyuarakan isi hati nurani rakyat, menjabarkan keingin rakyat.
RRI mereka anggap menjuru bicarai rakyat yang sedang membela
kemerdakaan menegakan kedaulatan, bertekad mempertahankan proklamasi 17
Agustus 1945. sehidup semati dengan Republik Indonesia.
karena missi RRI kedalam negeri sudah semakin memadai, maka perlu
diusahakan secepat mungkin agar suara RRI dapat didengar oleh Dunia.
dalam mengemban tugas ini, studio Jakarta terpaksa menyiarkan 2 macam
suara, yang satu suara RRI dan yang lain suara sekutu resminya, tetapi
sebenarnya suara belanda.
dan sampai kapan RRI Jakarta bisa bersuara, sudah dapat diramalkan, yaitu tidak akan lama.
pemancar - pemancar yang dipakai, berada dalam daerah kekuasaan tentara Inggris.
orang - orang kita di Bandung juga menggunakan pemancar - pemancar
besar dari PTT untuk siaran ke luar negri. tetapi tentara Inggris juga
berada di Bandung dan pasti akan menguasai pemancar - pemancar tersebut.
Sebagian dari pemancar - pemancar PTT itu dikeluarkan oleh pemuda
-pemuda PTT dan kawan - kawan RRI bandung. Dr. Abdulrachman Saleh
sendiri sudah membawa sebuah pemancar sendiri yang besar dari Bandung ke
Yogyakarta, yang akan dipakai untuk siaran ke luar negeri. tenaga -
tenaga siaran luar negeri dari Jakarta sudah berangkat ke Yogyakarta,
antara lain Soeriodipoero.
Tetapi sampai akhir November 1945 pemancar di Yogyakarta dari Bandung itu masih belum siap.
Perdana Menteri Sutan Sjahril sendiri bersama Manteri penerangan
telah menugaskan adanya siaran ke luar negeri dengan menggunakan
pemancar - pemancar yang sudah dikeluarkan dari Surabaya ke Kediri,
antara lain yang diusahakan Dr. Abdulrachman Saleh sewaktu akhir Oktober
datang di Surabaya. tetapi sampai akhir November pemancar - pemancar di
kediri itu belum juga siap.
Maka Dunia terpengaruh oleh propaganda Belanda, yang dengan leluasa
dapat mengatakan, seolah - olah Republik Indonesia adalah bikinan Jepang
atau Soekarno dan Hatta Collabolator Jepang atau di Indonesia tidak ada
apa - apa dan kerusuhan - kerusuhan di timbulkan oleh kaum ekstrimis,
dan lain sebagainya Belanda sangat takut kalau - kalau suara RRI sampai
didengar di luar negeri. mereka berhasil memperdayakan sekutu untuk
membom studio - studio Surakarta dan Yogyakarta dengan dalih bahwa RRI
radio membantu radio pemberontak, yaitu radio BPRI ( Barisan
pemberontakan Republik Indonesia ) radio nya Bung Tomo, yang katanya
menghasut rakyat untuk merintangi pelaksanaan tugas tentara sekutu di
Indonesia.
Maka Angkatan Udara Inggris dari Semarang digerakan untuk melakukan
pemboman terhadap ke dua studio RRI tadi. pemboman Inggris tersebut
lebih mendorong RRI Solo untuk menggunakan pemancar - pemancar RCA di
tawamangun untuk siaran ke luar negeri.
Dengan gelombang pendek 30 meter pemancar yang berkekuatan 250 Watt
itu pasti akan dapat didengar di Australia dan Asia. Dizaman SRV
pemancar tersebut dengan gelombang 60 meter dapat didengar dengan baik
di seluruh Indonesia. Masalahnya tinggal mencari tenaga, terutama yang
menguasai bahasa Inggris.
Dalam bulan Desember 1945 Soeriodipuro datang ke Solo dari Jakarta
untuk menyelenggarakan siaran luar negeri dari Yogyakarta dengan
pemancar PTT dari Bandung. ternyata pemancar tersebut masih memerlukan
beberapa bagian alat - alat sehingga belum siap. waktu diberi tahu
tentang rencana siaran luar negeri dengan pemancar di Tawangmangu, ia
sangat bersemangat. tentu masih di perlukan beberapa tenaga lagi untuk
menyelenggarakan siaran luar negeri secara kontinu. sambil mendidik
tenaga - tenaga siaran, Soeriodipuro mulai siaran dalam bahasa Inggris
dari Solo dengan pemancar bergelombang 60 m.
Yang mendaftarkan diri pertama - tama adalah Susanti Soeriodipuro
Kartohadikusumo, putri bekas ketua PPRK. dengan 2 orang, Soeriodipuro
permulaan Januari 1946 mulai dengan siarannya. tenaga - tenaga sukarela
lainnya datang, yaitu Dr. Solarko, seorang dokter gigi dan pelukis di
Solo dan Oetomo Ramelan, adik Oetojo Ramelan.
Setelah siaran dalam bahasa Inggris dari RRI diketahui masyarakat,
peminat - peminat lain datang untuk menawarkan bantuan tenaganya, tetapi
masih memerlukan pengalaman. mereka adalah Rochmulyati, Winarsih,
Winarti dan Mieke Saleh ( adik Popie Saleh yang kemudian menjadi istri
perdana menteri Sutan Sjahril ).
Setelah latihan siaran luar negeri di Solo berjalan 2 bulan, dan
persiapan di Tawangmangu selesai, Staf siaran luar negeri Soeriodipuro
pindah ke Tawangmangu untuk menyelenggarakan siaran - siaran langsung
dari Tawamangu, yang tentu lebih sempurna dari pada dari Solo dengan
menggunakan saluran telepon untuk modulasi yang sering terganggu.
Dari Yogyakarta juga dapat di tarik 2 orang tenaga berpengalaman
Budiman dan Hajii, yang dahulu juga menjadi penyiar siaran luar negeri
Hoso Kyoku Jakarta.
Pada bulan Maret 1946 siaran luar negeri RRI dari Tawamangu dapat di
mulai dengan Staf seluruhnya berjumlah kutang lebih 25 orang, termasuk
keluarga Soeriodipuro dan lain - lain serta tenaga - tenaga teknik dan
operator.
Siaran luar negeri dari Tawamangu dapat berlangsung dengan baik,
berkat bantuan yang besar dari Komandan Batalyon Letkol Sastro Lawu.
4. RRI menjadi Jawatan Radio
Wakil - wakil dari 8 studio RRI di Jawa berkumpul lagi untuk
bermusyawarah pada tanggal 12 dan 13 Januari 1946. Konperensi radio
kedua ini di adakan di Solo yang mendorong bahkan mengharuskan
bermusyawarah ialah situasi negara dan keadaan studio - studio RRI.
Situasi Negara
Situasi Jakarta tidak memungkinkan Pemerintah RI berkedudukan di Jakarta.
Tentara Inggris telah menguasai kota - kota Surabaya, Semarang dan
Bandung dan 800 orang marinir Belanda telah mendarat di Jakarta.
Keadaan studio - studio RRI
Jakarta : Dengan penetapan menteri Penerangan di masukkan kedalam Kementrian Peneranggan.
Bandung : Bagian teknik dimasukkan kedalam PTT bagian siaran kedalam
Jawatan Penerangan Propinsi Jawa Barat. Pimpinan Teknik di pegang oleh
pegawai PTT Hardjopranoto sedang pimpinan siaran oleh Kepala Jawatan
Penerangan Mr. Djumhana.
Purwokerto : Semula menjadi bagian dari PTT tetapi kemudian memasikan
kedalam Jawatan Penerangan setelah menerima pemancar dari Kementrian
Penerangan melalui RRI Jakarta.
Semarang : Mendapat biaya Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro,
tetapi tidak di masukkan kedalam pemerintah Daerah. Setelah Semarang di
kuasai oleh tentara Inggris dalam bulan November 1945, Pemancar -
pemancar di singkirkan ke 3 tempat, Pekalongan, Pati dan Salatiga.
Surakarta : Tidak mengalami perubahan status, sedang untuk pembiayaan siaran menerima pinzaman dari Pemerintah daerah Surakarta.
Yogyakarta : Tidak mengalami perubahan status sedang untuk pembiayaan mendapat bantuan dari KNI Daerah berupa pajak radio.
Surabaya : Tidak mengalami perobahan status, sedang untuk pembiayaan
siaran menerima bantuan keuangan dari KNI daerah Surabaya. Setelah
Surabaya dikuasai oleh tentara Inggris akhir November 1945
pemancar-pemancar disingkirkan ke 3 tempat : Mojokerto, Bondowoso, dan
Madiun. Induk RRI di Jawa Timur berkedudukan di Mojokerto sedang satu
bagian menyiarkan dari Bondowoso. Pemancar di Madiun diserahkan kepada
Dewan Pemuda Republik Indonesia, yang kemudian mengadakan siaran sendiri
dengan nama "Gelora Pemuda"
Malang : Mendapat biaya dari PPT tetapi statusnya tidak berubah. Yang
hadir dalam Konperensi adalah wakil-wakil dari 8 studio RRI,dan
Dr.Abdulrachman sendiri, yang sejak bulan November 1945 bertempat
tinggal di Yogyakarta,diperbantukan kepada markas Besar Tentara untuk
mempersiapkan pembentukan Angkatan Uadar RI. Selain itu juga Mr. Ali
Sastroamidjojo, yang mewakili Menteri Penerangan Moh. Natsir. Acara
tunggal dalam Konperensi ialah menetapkan status RRI. Kepada Pemerintah
diminta keputesan apakah berdiri di luar Pemerintah atau di dalam atau
sebagai Badan Penyiara Radio Semi Pemerintahan. Atas nama Maenteri
Penerangan Mr. Ali Sastroamidjojo, menjelaskan, bahwa radio dianggap stu
alat yang vital untuk dipakai sebagai corong Pemerintah. Oleh karena
itu RRI harus menjadi satu Jawatan Pemerintah. mengenal tempatnya belum
diputuskan, karena ada 2 kementerian yang menginginkan kementerian yaitu
Kemnterian Penerangan dan Kementerian Perhubungan. Juga ada kemungkinan
lain, yaitu bagian teknik (pemancar dan lain-lain) di bawah PTT dan
bagian siaran di bawah Kementerian Penerangan, sedang Pimpina Umum
diangkat atas usl Menteri Penerangan dan Menteri Perhubungan. Para wakil
RRI bulat untuk tetap satu organisasi dan menolak untuk menjadi 2
bagian, teknik dan siaran. Yang kedua supaya diputuskan apakah RRI
berada di dalam atau di luar Pemerintahan. Setelah diadakan pembicaraan
yang memakan waktu 1 malam, terdapat 4 suara sutuju berdiri di luar
Pemerintahan, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, sedang 4
suara lainnya mangusulkan menjadi Jawtan Pemerintahan yaitu Jakarta,
Bandung, Purwokerto, Malang. Terpaksa diadakan pembicaraan sekali lagi
yang akhirnya mencapai keputusan 6 suara setuju menjadi Jawatan
Pemerintah. Surakata dan Semarang tetap mengkhendaki RRI sebagi badan
Otonom di luar pemerintah, apakah 100% swasta atau kasemi Pemerintah
asal Otonom. Tetapi karena sebagian besar dari stasiun-stasiun
menghendaki RRI menjadi Jawatan Pemerintah konkritnya dalam KementErian
Penerangan kedua studio tersebut pada keputusan konperensi dengan
catatan sebagi berikut:
(1) Sebagai Jawatan Pemerintah , RRI harus menjalankan sepenuhnya politik Pemerintah.
(2) Pegawai-pegawai jangan hanya mau menerima gaji dan fasilitas-fasilitas lainnya sebagai pegawai
pemerintah,tetapi tidak mau mentaati peaturan-peraturan Pemerintah.
(3) Sebagai pegawai pemerintah, pegawai RRI harus loyal kepada Pemerintah dan jangan main
bunglongan. Ini betentangan dengan sumpah 11 September 1945. Jika ada yang pada suatu saat
tidak dapat mengikuti politik pemerintah , secara konsekwen dia harus keluar dari RRI.
(4) Sumpah 11 September 1945 tetap menjadi pedoman perjungan RRI, karena sumbernya adalah
proklamasi 17 Agustus 1945.
Empat hal sebagi catatan tersebut oleh wakil-wakil Surakarta dan
Semarang di minta Kepada semua wakil RRI untuk dijadikan keputusan
komperensi, yang mendapat persetujuan bulat dari semua yangbhadir,
termasuk wakil-wakil Kementrian Penerangan.
Oleh karena Kementerian Penerangan baru akan memberi keputusan dalam
waktu 1 minggu,maka koperensi memutuskan untuk mengadakan konperensi
lagi pada tanggal 23 dan 24 Januari 1946 di Purwekert.
Atas permintaan wakil-wakil Kementerian Penerangan, supaya dalam
konperensi di Purwekerto sudah dapat di ajukan usul-usul yang konkrit
tentang susunan organisasi dan personalia Pimpinan RRI, maka konperensi
membentuk sebuah panitia kerja yang terdiri atas 3 orang, yaitu
Soeriodipuro sebagai ketua,Harto ( Semarang ) dan Soedarmoto (
Yogyakarta) sebagai anggota.
Perlu ditambahkan, bahwa dalam komperensi juga harir wakil0wakil dari
RII ( Radio Internasional Indonesia ) dari Kediri sebagai pendengar.
5. PERTUMBUHAN RRI SAMPAI CLASH KE II
Pentingnya radio dalam masa revolusi fisik telah disadari oleh
masyarakat, terutama badan-badan perjuangan seperti BPRI ( Barisan
Pemberontakan Republik Indonesia ) dan kelaskaran rakyat lainnya.
Radio merupakan alat pengobar semangat perjuangan yang sangat ampuh,
setelah Inggris melancarkan agresi militer diSurabaya, Semarang,
Magelang dan Bandung.
Atas usaha masyarakat dengan bantuan KNI Pemerintah Daerah,
Komandan-Komandan Tentara maupun lasykar setempat, maka berdirilah
Badan-Badan Siaran Radio di Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Magelang,
Cilacap, Tegal, Madiun, Kediri dan Jember, dalam masa 1946 sampai 1947.
RRI sendiri pada waktu itu sudah mempunyai stasiun-stasiun di
Jakarta, Bandung yang kemudian menyingkir ke Tasikmalya; stasiun
Purwokerto kemudian menyingkir ke Kebumen dan Wonosobo; stasiun-stasiun
Surakarta, Yogyakarta; Semarang, menyingkir ke Pati, Pekalongan dan
Salatiga : Surabaya, menyingkir ke Mojokerto dan selanjutnya ke Kediri;
sedang Malang yang menyingkir ke Blitar.
Stasin-stasiun RRI sudah mempunyai organisasi Nasional dengan pedoman
perjuangan yang satu, sehingga suara RRI merupakan satu suara yang sama
dalam politik dan arah tujuannya.
Stasiun-stasiun radio yang lain didirikan oleh masyarakat dengan pedoman perjuangan yang berbeda-beda.
Enersi yang dikeluarkan oleh stasiun-stasiun tersebut, tidak selalu efektif dan belum tentu mencapai sasaran.
Untuk memanfaatkan tenaga, alat dan semangat yang dimiliki oleh
stasiun-stasiun tersebut, maka RRI mengadakan pendekatan kepada
badan-badan penyiran radio masyarakat itu, supaya bersatu dalam barisan
RRI.
Ajaran RRI itu mendapat sambutan baik, bahkan sebagian besar
mengibginkan bergabung dengan RRI. maka bertambahlah cabang-cabang RRI
diCirebon, Tasikmalaya, Garut, Magelang, Cilacap, Madiun, Kediri dan
Jember sebelum clash kedua tahun 1947.
Bahkan diTasikmalaya terdapat dua stasiun RRI, yaitu RRI Priangan
Timur dan RRI Bandung, karena tidak dapat dipersatukan, maka terpaksa
RRI Bandung, yang tidak dapat bekerja sebagai Radio Perjuangan Jawa
Barat.
Setelah "Persetujuan Renvile" tanggal 17 Januari 1948 keadaan
berubah. Karena daerah kekuasaan defakto Republik hanya terbatas pada
"Daerah Renvile", yang meliputi Keresidenan Banyumas, Kedu Pati,
Surakarta, Yogyakarta, Madiun dan Kediri saja, maka stasiun-stasiun RRI
yang secara leluasa beroperasi sesudah persetujuan Renvile adalah :
1. KEDIRI; RRI Jawa Timur , sebagai unit penggabungan RRI Surabaya dan RRI Kediri.
2. Blitar; RRI Malang
3. Madiun; RRI Madiun
4. Surakarta; RRI Surakarta dan RRI Salatiga (pecahan RRI Semarang ).
5. Yogyakarta; RRI Yogyakarta dan RRI Perjuangan Jawa Barat (bekas RRI Bandung ).
6. Magelanng; RRI Jawa Tengah sebagai unit penggabungan RRI Magelang , RRI Pekalongan dan RRI Tegal
7. PATI; RRI Pati (pecahan RRI Semarang)
8. KEBUMEN; RRI Purwokerto (sebagian)
9. WONOSOBO; RRI cilacap dan bekas RRI Purwokerto (sebagian)
Dengan badan-badan kelasykaran yang menyelenggarakan siaran radio
sendiri, antara lain BPRI, maka RRI mengadakan kerjasama yang baik dalam
siaran, serta memberikan bantuan materiil dan tenaga (membuat pemancar
radio dan memberi alat-alat dan sebagainya), terutama sekali dalam masa
tahun 1945-1946.
RRI Kediri yang sebenarnya juga dibiayai dari anggaran Kementerian
Penerangan, baru dapat digabungkan ke dalam RRI Jawa Timur di Kediri,
setelah pemberontakan PKI di Madiun tanggal 19 September 1948.
6. PERISTIWA MADIUN 19 SEPTEMBER 1948 Jika Progam Perjuangan RRI
terutama ditujukan untuk menghadapi perang melawan Inggris dan Belanda,
maka "Peristiwa Madiun" pada tanggal 19 September 1948, sebenarnya tidak
pernah diperhitungkan.
Maka dalam menghadapi peristiwa tersebut, RRI Madiun maupun RRI Pusat
todak mengadakan persiapan-persiapan untuk "terugval basis"
Tanpa kesempatan dan kemampuan untuk melawan Pimpinan RRI Madiun
masih setai kepada Sumpah 11 September dan pemerintah R.I RRI Madiun
ME-relay pidato radio Presiden Soekarno yang menyatakan, bahwa
pernyataan Muso adalah pemberontakan terhadap Pemerintah yang syah yang
tentunya sangat menggemparkan.
Semua radio umum di Madiun waktu itu masih di-stel pada gelombang RRI
Madiun, sehingga pidato radio Presiden Soekarno diikuti oleh seluruk
masyarakat Madiun.
Selain tindakan berani pimpinan RRI Madiun itu, pegawai-pegawai
telegrafinya secara rahasia menggunakan pemancar telegrafi untuk
hubungan RRI Sala dan Kediri.
dalam hubungan itu dikirim berita-berita tentang kegiatan kaum
pemberontakan, lokasi pasukannya dan lain-lain yang dapat dipakai oleh
penumpasan kaum pemberontak.
hubungan rahasia itu dapat dilangsungkan sampai Siliwangi masuk kota Madiun pada tanggal 30 September 1948.
Tidak ada satu orangpun dari RRI Madiun terlibat dalam pemberontakan.
RRI Madiun bersama RRI lainnya membantu operasi militer Pemerintah
untuk menghancurkan pemberontakan yang melarikan diri dari kota Madiun.
SIARAN GM-SSPM SEbelum pemberontakan PKI di Madiun meletus, di Solo
terjadi tembak-menembak antara satu kesatuan Siliwangi di asrama
Srambatan, dekat kantor RRI di Balapan, dengan saputngan merah diikat
dilehernya.
Menurut keterangan, mereka itu adalah anak buah Jindau dari ALRI.
Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 13 September. Sehari sebelumnya
telah didahului panculikan-penculikan terhadap-terhadap
pimpinan-pimpinan politik dari golongan nasionalis, dan golongan agama.
Menurut keterangan orang yang melihatnya, penculikan dilakukan oleh
satuan0satuan tentara dalam pakaian seragam hitam-hitam dengan sapu
tangan merah dilehernya. Kejadian tersebut menimbulkan
ketegangan-ketegangan, tidak saja di kota Solo, tetapi juga di seluruh
Keresidenan Surakarta, karena ternyata gerakan penculikan terhadap
pemimpin-pemimpin politik dari nasionalis dan agama juga dilakukan di
daerah-daerah seluruh Keresidenan Surakarta.
Berhubung dengan situasi yang semakin panas di Surakarta pada tanggal
15 September, Panglima Besar Jendral Sudirman mengeluarkan perintah
harian kepada Angkatan Perang R,I, supaya tetap memelihara persatuan dan
kesatuan serta melindungi kedaulatan negara.
Pada tanggal 17 September daerah Surakarta dinyatakan bahaya.
Kolonel Gatot Subroto diangkat sebagai Gubernur Militer Daerah
Militer Istimewa Surakarta,Semarang, Pati, dan Madiun, disingkat
GM-SSPM, berkedudukan di Solo.
Oleh karena RRI Surakarta menyiarkan pengumuman-pengumuman dari staf
GM dan beberapa jawatan yang ada hubungannya dengan pemberontakan
Madiun, Kolonel Gatot Soebroto mengambil keputusan untuk membentuk satu
Komando Penerangan GM yang aktif memberikan penerangan-penerangan kepada
masyarakat dalam rangka pemulihan kembali ketenangan umum.
Supaya Komando Penerangan itu tidak ditakuti rakyat (waktu itu
masyarakat memang dihinggapi ketakutan jika melihat orang berseragam
tentara dan bersenjata), maka Komando Penerangan GM dipercayakan kepada
Maladi sebagai pimpinan RRI. Kebetulan waktu itu, Maladi masih terdaftar
dalam satuan PHB dan MBT dengan pangkat mayor.
Lengkapnya Komando Penerangan adalah "Komando Penerangan Mobile
GM-SSPM", yang kemudian oleh masyarakat disingkat menjadi "Komando
Penerangan Mobile GM-II". Staf Penerangan GM-II hanya terdiri dari 5
orang. Yaitu: Maladi sebagai Komandan/Ketua, Soewito Koesoemowidagdo
(Kepala Jawatan Penerangan Provinsi Jawa Tengah), Soetarto (Berita Film
Indonesia), Darmosoegondo, reporter RRI Pusat , dan Oetoyo Soemowidjojo
(Kepala Bagian Teknik RRI Sukakarta).
Aparat yang digunakan oleh Penerangan GM-II adalah personel dan
perlengkapan (kendaraan, alat-alat, radio, alat perfilman, mesin tulis
dan lain-lain) dari RRI, BFI dan Jawatan Penerangan. Jadi sebenarnya,
"Penerangan GM-II" adalah aperatur Kementerian Penerangan yang diberi
wewenang dan fasilitas oleh Gibernur Milliter.
Dengan wewenang dan fasilitas tersebut, Penerangan GM-II dapat
meminta segala Informasi dari pasukan-pasukan yang beroperasi dalam
penumpasan pemberontakan dan dapat mengikuti semua operasi militer.
Dengan demikian, Penerangan GM-II dapat mengumpulkan semua data
kegiatan militer dari tangan pertama atau melihat sendiri, sehingga
dapat memberi penerangan yang luas, mendalam dan positif kepada
masyarakat.
Atas usul Gubernur Gatot Soebroto, siaran Penerangan GM-II dari Solo
tiap malam selama 30 menit, dijadikan siaran sentral yang di-relay oleh
semua pemancar RRI di wilayah Republik.
Dengan bahasanya yang mudah dimengeti oleh rakyat, bahasa rakyat,
maka RRI dapat mengulas dan mengomentari operasi-operasi militer tepat
serta meresap dalam ingatan para pendengar radio.
Usaha lain dari Penerangan GM-II yang sangat popeler adalah "gambar hidup keliling".
Unit "gambar hidup keliling" ini terdiri sebuah truck (truck hijau
RRI Solo AD-216)yang dengan alat pengeras suara, mikropon, layar putih,
film strips, proyektor film dan lain-lain, sebuahmobil sedan (De Soto
RRI Pusat AD-211) dan kadang-kadang juga mobil dari BFI. Unit tersebut
mengikuti operasi militer satuan-satuan Siliwangi.
Setelah sebuah kota berhasi dikuasai oel Pemerintah maka sore harinya
diadakn pertunjukan, yang oleh rakyat diberi nama "Gambar Hidup".
Film strips yang dipertunjukan melukiskan gambar-gambar dari pemimpin
pemberontak, rumah-rumah yang dibakar, korban-korban kekezaman mereka.
Di samping itu dipertunjukan pula kegiatan penduduk membangun kembali
rumah—rumahnya.
Gambar-gambar tentang sikap ramah prajurit terhadap penduduk diperrtunjukan supaya rakyat merasa dekat dengan TNI.
Siaran sentral GM-II setiap malam dari Sala selama dua bulan (Oktober
dan November) dan "Penerangan Mobile GM-II, telah ikut memegang peranan
dan bantuan berhasilnya pemarintah menumpas pemberontakan PKI, serta
memulihkan keamanan dan ketentraman umum dalam Desember.
waktu singkat.
7. CLASH KE-II MELETUS (19 Desember 1948). Penumpasan pemberontakan
PKI Muso menginjak tahap terakhir dengan terkepungnya rombongan Amir
Sjarifudin di daerah Kudus seperti yang disiarankan oleh Darmosoegondo
dalam siaran GM-II hari itu.
Artinya tugas Pemerangan GM-II sudah hampir selesai, dan tugas RRI
selanjutnya dicurahkan untuk meningkatkan potensi siarannya guna
menghadapi suasana buruk dengan penggantian Dr. Van Mook oleh Dr. Boel
dan tuduh-tuduhan Belanda seolah-olah tentara Republik melangar genjatan
senjata. "Keadaanya seperti sebelim tangal 20 Juli 1947" kata Perdana
Menteri Mohamad Hatta, artinya seperti saat-saat menjelang penyerbuan
tentara Belanda kedaerah Republik pada tanggal 21 Juli 1947 yang
mengorbankan agresi milliter Belanda ke-1.
Seminggu kemudian diperoleh keterangan bahwa seluruh Devisi Siliwangi
telah menerima perintah bersiap-siap kembali ke Jawa Barat.
Semua satuan Siliwangi yang sebelum pemberontakan Mediun ditempatkan
di daerah Surakarta dikonsentrir di daerah Yogyakarta, Kedu dan
Banyumas. Sementara itu di sepanjang garis denarkasih Semarang -
Surakarta dan Semarang - Kudus. Tentara Belanda mengerahkan
pasukan-pasukan dan pelengkapan perang secara besar-besaran.
Dari staf Panglima Markas Besar Komando Jawa sebelum rombongan MBKI
berangkat ke Jawa Timur dengan KLB (Kereta Api Luar Biasa) diperoleh
keterangan, bahwa APRI akan mengadakan letihan besar-besaran setelah
rombongan kembali dari Jawa Timur sekitar tanggal 19 Desember.
Ditambah dengan sikap Delegasi Belanda yang main mutlak-mutlakan
dalam perudingan dengan delegasi Indonesia, Meladi mengambil kesimpulan,
bahawa tentara Belanda sedang menyiapkan agressi yang kedua.
Ia teringat rencana 2 tahu Belanda tertanggal 10 November 1946.
Rupanya keadaan ekonomis Republik dan Angkatan Perangnya setelah
pemberontaka PKI Muso sudah dilanggap matang oleh Belanda untuk memberi
pakulan terakhir kepada Republik. RRI harus segera dipersiapkan untuk
menghadapi perang gerilya. Pada tanggal 14 DESEMBER dikirim kawat pada
semua studio RRI berisi instruksi sebagai berikut: Semua pamancar besar
supaya dikeluarkan dari kota Studio-studio darurat dipegunungan supaya
sudah siap untuk bekerja. Pada tanggal 15 Desember Meladi menghadap
Menteri Penerangan di Yogyakarta untuk melaporkan segala persiapan
menghadapi " doorstoot" Belanda ke Yogyakarta.
Sebelum penyerbuan Belanda itu pemancar-pemancar Yogyakarta supaya
diangkut ke Wonosari dan daerah pegunungan untuk siaran gerilya. Untuk
itu diminta bantuan keuangan dari Kementrian Penerangan.
Menteri menjawab: "Kita tidak perlu tergesa-gesa. Perundingan di
Belanda di Kaliurang sedang berjalan dan wakil-wakil PBB ada di sini.
Kemungkinan clash dengan Belanda sangat tipis dalam tahun ini".
Sekalipun demikian Menteri tidak keberatan RRI mengadakan
persiapan-persiapan. Intruksi tetap diberikan RRI Yogyakarta supaya
dengan persiapan pengangkutan pemancar-pemancar dan alat-alat radio dari
kota.
Mulai tanggal 16 Desember beberapa Menteri tiba di Solo, antara lain
Dr Sukiman, Mr Susanto Tortopradjo, I.J.Kasimo, Soepeno, dan juga Mayor
Jenderal Soehardjo dengan anggota-anggota KNIP antara lain Zainul
Arifin, Prawoto Mangkusasmito, Mr Kasman dan Soewilowati.
Dari Mayor Jenderal Soehardjo diperoleh keterangan, bahwa keadaan
genting dan beberapa menteri serta anggota pimpinan KNIP sesudah sidang
kabinet tanggal 16 Desember ditugaskan di kota Yogyakarta.
Keesokan harinya tanggal 19 Desember 1948, masyarakat dikejutkan oleh ledakan-ledakan di sebelah barat kota Solo.
Beberapa pesawat terbang,tampak berputar-putar cukup rendah.
Sampai demikian jauh masyarakat belum menduga kalau itu merupakan
serangan Belanda, karena sebelumnya diperoleh keterangan akan adanya
latihan APRI, secara besar-besaran.
RRI mulai mengetahui bahwa suara ledakan-ledakan tersebut adalah
serangan Belanda, setelah diterima informasi bahwa BBC London dan PCJ
Hilversum telsh menyiarkan perintah Kerajaan Belanda kepada tentara
Belanda di Indonesia untuk melakukan "Aksi Polisionalnya" terhadap R.I.
Setelah meneruskan informasi tersebut kepada Kolonel Gatot Subroto,
Kepala Jawatan Radio Maladi memanggil para pimpinan bagian dari pusat
RRI dan RRI Surakarta untuk segera berkumpul di Kantor Pusat RRI Balapan
199.
Dari RRI Pusat yang hadir adalah Adang Kadarusman, Soetardi Hardjoloekito, M.Tjatji, Pratdjo Witono dan Soedjiteng.
Dari RRI Surakarta yang hadir adalah Saparno, Oetoj dan Sidhato.
Kepada mereka secara singkat dijelaskan bahwa: 1. Belanda telah
memulai agresi militernya yang ke II dengan segenap kekuatannya untuk
menghancurkan Republik. 2. Peramg kali ini akan menentukan hidup matinya
Republik Indonesia. 3. Setiap saat Belanda bisa masuk kota Solo dan
menduduki seluruh daerah Surakarta. 4. Bagaimanapun keadaanya RRI
berpegang teguh pada Sumpah 11 September dan bertekad melaksanakan
semboyan "Sekali di Udara tetap di Udara".
Berhubungan dengan itu diinstruksiakn sebagai berikut: (1) Semua
pemancar harus diangkat ke Tawamangu, kecuali pemancar kecil untuk
meneruskan siaran di kota, sampai saat Belanda akan masuk kota. (2)
Semua arsip Jawatan di Pusat dan Studio supaya diangkut ke tempat-tempat
yang sudah ditentukan.
Mengenai tugas dan nasib pegawai RRI ditegaskan sebagai berikut: (1)
Sebagai pemimpin umm Maliadi akan terus memimpin di luar. Markas RRI
adalah kompleks Lawu dengan pusatnya Tawangmangu. Siapa yang ingin
berjuang di luar supaya mengikutinyan atau menyusul di kempleks Lawu.
Bagaimana kahidupan di luar, Jawatan tidak dapat menjamin. Tetapi ia
akan menjamin, bahwa jika yang satu makan, semua akan makan. (2) Siapa
yang ingin tinggal di kota, diminta supaya tetap setia kapada
Prokklamasi 17 Agustus 1945 dan jangan sampai bekerja pada Belanda. (3)
Untuk bekal perjuangan di kota akan diserahkan sekedar modal, berupa
1 kg candu. Apabila terdesak oleh keadaan, diizinkan barang-barang
Jawatan yang tidak vital dijual untuk meringankan beban hidup para
pegawai. (4) Jika ada kesempatan supaya diusahakan hubungan dengan yang
di luar, agar tetap berjuang dalam satu barisan.
Sebagai penutup pertemuan Maladi menyatakan" RRI Yogyakarta sudah
tidak terdengan lagi siarannya.Hubungan telepon sudah putus. Siaran
radio Australia telah memberitahukan bahwa Belanda telah menduduki
Yogyakarta. Pada jam 14.00 KLB yang mambawa rombongan MBKD dari Jawa
Timur tiba di stasiun Balapan. Maladi memberi laporan kepada Staf
Panglima Besar bahwa menurut radio Australia Yogya sudah diduduki
tentara Belanda. Tidak disiarkan tentang Presiden dan para Menteri yang
ada di Yogya.
Mengenai RRI dilaporkan bahwa pemancar-pemancar dari Solo sudah mulai
diangkut ke Tawamangu yang akan menjadi pusat siaran RRI dalam gerilya.
Kepada Studio-studio RRI lainnya sudah diinstruksikan untuk terus berjuang di pegunungan.
Secara garis besar Staf Panglima Besar memberitahukan daerah
markasnya yang mobil dan daerah gubernur militer/ Panglima Devisi di
Jawa. Juga diberitahukan "terugvalvasis" pemancar PHB pusat yang akan
menjadi pusat komunikasi angkatan perang. Jam 14.20 rombongan MBKD
meneruskan perjalanan dengan KLB ke Yogya, artinya kejurusan barat.
Pengangkutan pemancar dan alat-alat studio yang pertama sudah
terlaksana pada jam 12.00 dengan truk hijau RRI Solo AD-211 jam 21.00
truk itu sudah tiba kembali ke Solo untuk berangkat lagi pada jam 24.00
membawa pemancar kedua beserta alat-alat lainnya.
Kedua pemancar tersebut di drop di Tawamangun. Yang pertama, pemancar
RCA berkekuatan 250 watt, segera dirakit kembali supaya tanggal 20
Desember sudah dapat diudarakan lagi. Yang kedua, sebelum pemancar NSF
diangkat dari Tawangmangu ke tempat lain yang tidak jauh dari situ untuk
cadangan. Yang masih ditinggalkan di Solo hanya pemancar kecil untuk
siaran lokal. Pemancar ini baru akan diangkut keluar kota apabila
tentara Belanda mendekati Solo. Pemancar RRI Solo lainnya, bekas
pemancar PTT berkekuatan 150 watt sudah diangkut lebih dahulu ke
Tawangmangu pada tanggal 17 Desember berdasarkan instruksi tanggan 14
Desember. Pemancar tersebut juga akan dikeluarka dari Tawangmangu ke
temopat lain sebagai cadangan. Yang dioperasikan dari Tawangmangu adalah
pemancar RCA karena paling ringan, mudah diangkut dengan tenaga menusia
dan dapat dipasang dengan cepat.
Seandainya Belanda sudah memasuki Karangpandan, pemancar tersebut masih dapat diselamatkan dalam waktu dua jam saja.
Perlu juga diketahui bahwa didaerah Lawu terdapat Perusahaan-perusaan
perkebunan teh, kopi, karet dan gula yang pada umumnya mempunyai
pembangkit tenaga listrik. Ke tempat-tempat itulah pemancar-pemancar
cadangan akan diakui.
Dengan demikian, jika semua rencana berjalan baik, maka sampai tiga
tahap sesudah Tawangmangu, RRI akan dapat melakukan siaran lagi dari
tiga tempat yang berlainan. Pada tanggal 20 Desenber pagi-pagi, AD-211
sudah tiba kembali di Solo. Dari Tawangmangu datang berita telepon bahwa
tempat itu dibom dari udara, sehingga tiang-tiang antene RRI harus
ditrobohkan atas perintah komandan pertahanan, Letkol. Hollan Ismandar.
Akibatnya pemancar RCA belum dapat di udara. Maladi diminta segera
datang untuk membicarakan masalh penyiaran RRI dari Tawangmangu dengan
komandan Pertahanan. Pada jam 11.00 ia berangkat ke Tawangmangu dengan
truk AD-11 yang mengangkut alat-alat terakhir kejurusan Tawangmangu,
antara lain arsip-arsip kantor, mesin tulis dan mesin reneo.
Alat-alat tersebut diturunkan di Karanganyar untuk disimpan dirumah
oarang tua RRI Pusat, Soetojo di sebuah desa yang tidak jauh dari
Karanganyar.
Beberapa kali dalam perjalanan antara Karanganyar-Tawangmangu, truk
AD-211 berpapasan dengan iring-iringan mobil dan truk berisi
pasukan-pasukan tentara memakai daun-daunan penyamar kejurusan Solo.
Melihat itu, Maladi bertanya-tanya dalam hati, apakah pasukan-pasukan
tersebut akan memperkuat kota Solo, ataukah menyingkir dari Tawangmangu,
karena mungkin Belanda menerjunkan pasukan payungnya setelah membongi
Tawangmangu.
Tetapi di sepanjang jalan, di tiap-tiap pohon terlihat tentara dalam keadaan siap tempur.
Setiap kali berpapasan iringan-iringan kendaraan tentara, truk RRI
AD-211 harus berhenti, sehingga baru pada jam 16.00 dapat mencapai
karang pandan.
Pemancar NSF ternuyata masih ada di Karangpandan, karena oleh
komandan pertahanan Tawangmangu dilarang untuk dipasang di san. Terpaksa
pemancar NSF harus disembunyikan di Karangpandan.
Hari itu, alat-alat radio laboratorium PTT atas perintah komandan
setempat diangkut ke desa tersebut setelah alat-alat PTT diangkut.
Tetapi karena sudah sore dan tenaga-tenaga pengangkut tidak kembali
ke Karangpandan, maka pemancar NSF masih terlantar di halaman kantor
kewedanaan Karangpandan.
Oetojo, yang mengawal pemancar tersebut memang menunggu kedatangan
Meladi untuk meminta Instruksi ke mana pemancar itu harus dibawa. Secara
kebetulan ada seorang
kebayan (pegawai desa)dari desa
Punthukerjo bernama Soekarno yang kenal dengan Maladi dan menawarkan
jasanya. Katanya , bila dianggap cocok , rumahnya disediakan untuk
menyimpan pemancar NSF.
Waktu itu sudah jam 18.00 , sehingga diambil keputusan untuk segera mengangkut pemancar NSF ke Punthukerjo, dengan AD-211
Kepada Oetojo yang dibantu dua orang tenaga terbaik yaitu Soetrisno
dan Sabilan di perintahkan , supaya sudah mengangkut pemancar , segera
berangkat ke Tawangmangu membawa surat Maladi kepada Komandan Letkol
Holand Iskandar.
Pokonya tanggal 21 Desember dari Tawangmangu harus sudah jalan.
Pada jam 20.00 Maladi dapat kembali dengan truk AD-211 untuk mengtur
persiapan terakhir di Solo , antara lain mengangkut dokumen-dokumen di
rumahnya sendiri dan memberi instruksi-instruksi kepada rekan-rekan yang
akan berjuang di dalam kota . Oetojo , Oetrisno dan Sabilan dengan
berjalan kaki berangkat ke Tawangmangu .
Kira-kira setengah perjalanan , di desa Gayadompo , yang letaknya
lebih tinggi dari desa-desa sekitarnya dan jalan mulai menurun , langit
di sebebelah barat kelihatan kemerah-merahan.
Di depan nampak lampu-lampu mobil yang berkecepatan tinggi semakin
mendekat. Truk RRI AD-211 berhenti dan Maladi berdiri di tengah jalan ,
melambaikan tangan sebagai isyarat agar iring-iringan mobil yang menuju
Karangpandan berhenti, ternyata mobil Mayor Suprapto Kepala Staf
Gubernur Militer. Mayor Suprapto keluar dari mobil dan memberi tahu ,
bahwa Solo sudah mulai dengan pembumihangusan , dan tentara Belanda
sudah berada di daerah Kartosuro 12Km sebelah barat kota Solo . Jika
masih ada keperluan di kota , Supya cept-cepat masuk ke kota dan segera
keluar lagi.
Memang ia harus kembali ke kota untuk mengambil dokumen-dokumen dan
melihat keluarga , karena rumahnya juga digunakan untuk markas Komando
Tentara Pelajar , sehingga besar kemungkinan termasuk bangunan yang
harus di hanguskan.
Mendekati batas kota di seberang bengawan Solo truk harus berjalan
perlahan-lahan , karena jalan penuh ribuan pengungsi yang meninggalkan
kota menuju ke Timur.
Mereka menggendong anak-anak kecil, membawa tikar , alat-alat rumah
tangga dan macam-macam bingkisan berisi apa saja yang dapat mereka bawa.
Ia melihat-lihat apakah di antara pengungsi-pengungsi itu terdapat istri dan anak-anaknya.
Sampai di jembatan Bengawan Solo, truk di hentikan oleh penjaga
jembatan seorang enggota militer , yang nampak heran sekali ada truk
dari luar masuk kota , karena jembatan itu akan dihancurkan , yaitu jam
12 malam tepat.
Waktu ia di terangkan bahwa ia adalah Mayor Penenrangan Gubernur
Milietr yang akan mengambil pemancar radio yang masih ketinggalan di
kota , ia di perbolehkan jalan terus .
Tetapi diperingatkan sebelum jam 24.00 sudah keluar dari kota .
Mayor supaya hati-hati , karena di dalam kota sudah ada mata-mata penyusup , demikian pesan polisi militer , yang mengawal jembatan .
Sejak pemberontakan PKI Muso , mereka di datangkan dari Magelang untuk pengawal Gunbernur Militer.
Di rumah Soesatyo , bagian perlengkapan Teknik , di dekat rumah sakit
Jebres ia berhenti untuk menanyakan , apakah pemancar lokal sudah di
angkut keluar.
Dijawab , bahwa studio sudah kosong dan kemungkinan pemancar sudah di
angkut bersama alat-alat radio lainnya ke desa Nusukan ( sebelah utara
kota ) .
Maladi terus menuju rumahnya di Banjasari Lor . Rumah sudah terbakar
dan api masih menyala . Tidak ada seorangpun di rumah dan rumah-rumah di
sekitarnya sudah kosong , gelap dan sepi .
Dari Banjasari Lor ia terus ke RRi di jalan Marconi. Juga studio
sudah gelap , sepi . Tetapi Sirun , penjaga RRI yang setia masih ada .
Sirun melaporkan bahwa semua barang termasuk gamelan di studio sudah di
angkut keluar .
Ia sendiri ingin pulang ke desanya jika di izinkan . Tetapi ia
diminta supaya tetap di studio sampai tentara Belanda masuk kota .
Dari Studio Maladi pergi ke kantor pusat RRI di Balapan . Juga kantor
ini kosong . Perabotan dan barang-barang lainnya sudah di angkut
keluar. Penjaga kantor yang masih ada pada posnya juga di pesan seperti
Sirun. Dari Balapan terus menuju ke bekas rumah pemancar di waktu Jepang
yang di pakai untuk stasiun telegrafi dan perumahan beberapa orang
pegawai teknik di jalan Purwosari. Pemancar telegrafi dan alat-alat
radio di tempat itu sudah diamankan. Sakri , pengemudi truk yang
bertempat tinggal di rumah tersebut , minta izin untuk mengurus
keluarganya .Ia sudah sangat lemah , karena sejak tanggal 15 Desember
siang malam , mondar mandir Solo - Tawangmangu dan ia di izinkan untuk
tinggal di Solo. Waktu itu sudah jam 23.40 , Maladi harus cepat-cepat
keluar . Kebetulan di depan gedung RRI di Purwosari ada rumah seorang
anggota tentara pelajar . Ia berhenti di depan rumah dan dari rumah itu
keluar Sutardjo seorang TP lain berpakaian seragam dengan senjata
lengkap. Ia memberitahu bahwa Nyonya Maladi dan anak-anak serta ibu dan
adik-adiknya mengungsi ke Kepatihan di rumah orang tua Oetojo. Keris
pusaka di almarinya telah diambil oleh Sutardjo sebelum almari itu
terbakar dan pusaka itu telah di serahkan kepada Nyonya Maladi. Mengenai
dokumen-dokumen di katakan mungkin sudah diangkut ke luar oleh
kawan-kawan TP lainnya. Ia hanya tahu dokumen-dokumen dan surat-surat di
rumah Banjasari Lor di keluarkan dari rumah sebelum rumah di bakar pada
sekitar jam 20.00 . Maladi merasa lega , karena sudah tahu isteri,
anak-anak dan keris pusakanya selamat.
Setelah mengambil keluarganya di Kepatihan , berangkatlah Maladi
dengan truk DD-211 ke Karang pandan tanpa mengalami kesulitan di
jembatan Jurug , sekalipun sudah lewat jam 24.00, karena jembatan belum
di ledakan . Tidak jauh dari jembatan , 3 orang karyawan RRI Solo nampak
berjalan kaki ke jurusan yang sama , dan sekalian di bawa ke
Karangpandan . Mereka adalah Suparno , Suyoko dan Sumarso , yang
tujuannya ke Tawangmangu . Sampai di karangpandan dan sudah jam 02.00
pagi . Dari Wedana di peroleh keterangan , bahwa pengngkutan pemancar
RRI yang terakhir sudah beres , di simpan di rumah kabayan .
Keesokan harinya tanggal 21 Desember Maladi meninjau pemancar NSF di
rumah Kabayan Soekarno di desa Puntukredjo. Kebayan di beri tahu , bahwa
pemancar itu maha penting bagi RRI dan perjuangan dan di pesan , jangan
sampai di ketahui Belanda . Mengingat bahwa letak rumah Soekarno di
pinggir jalan menuju pabrik teh Kemuning yang bisa dilalui Jeep , ada
kemungkinan besar patroli Belanda yang lewat , Belanda akan memasuki
rumah itu . Bagaimana menyelamatkan pemancar itu dari penggeledahan
rumah-rumah oleh Belanda , diserahkan kepada Soekarno . selain itu juga
di pesan , supaya jangan menyerahkan pemncar itu kepada siapa saja tanpa
surat dari Maladi .
Sewaktu menuju kembali ke Karangpandan hujan turun dan terpaksa ia
mencari tempat berteduh di salah satu rumah di pinggir jalan. Dirumah
tersebut ia berjumpa dengan Kolonel Gatot Subroto dengan seluruh Staf
Gubernur Militer II, Kepala Staf Mayor Suprapto, Mayor Rusli bagin I,
Letnan Sugiri dan lain-lain. ia diberitahu bahwa beberapa mentri dan
anggota BP KNIP juga ada di Karangpandan yang sore itu akan mengadakan
rapat penting di kantor Wedana. ia diminta hadir untuk melaporkan soal
RRI.
Rapat sore jam 17.00 itu ternyata rapat satu Kabinet RI. Rapat di
pimpin oleh Dr. Sukiman Mentri Dalam Negeri dan di hadiri oleh Menteri
Kehakiman Mr. Susanto Tirtroprodjo, Menteri Pembangunan dan Pemuda
Supeno, Menteri Urusan Makanan Rakyat I.J Kasimo didampingi R.P Suroso,
Sedang dari BP KNIP hadir Zainal Arifin, Prawoto Mangkusasmito, Mr.
Kasman Singodimedjo, Mr. Sumardi (sekjen BP KNIP) dan Susilowati,
Inspektur Jendral APRI Mayor Jendral Suhardjo Hardjowardojo dan Kolonel
Supeno juga hadir dalam rapat tersebut.
Oleh Dr. Sukiman dibacakan keputusan sidang Kabinet di Yogyakarta tanggal
16 Desember 1948
bahwa jikalau Presiden dan Wakil Presiden karena keadaan tidak
melakukan pimpinan pamerintahan , para Menteri yang berada di Yogyakarta
di serahi pmerintahan, Menurut berita radio dan laporan sementara
perwira APRI yang dapat keluar dari Yogyakarta sesudah tentara Belanda
masuk, Presiden, Wakil Presiden dan para Menteri yang ada di Yogyakata
telah di tawan oleh Belanda maka para Menteri yang ada di Karangpandan
di tambah Menteti Agama K.H Maskur yang sudah ada di Jawa Timur,
merupakan Perintah RI darurat.
Dalam rapat tersebut di bicarakan pembagian bidang dari
Menteri-Menteri yang di tawan, antara lain bidang Penerangan dirangkap
oleh Menteri Supeno Keputusan itu pelu di siarkan oleh RRI dan Supeno
akan mengucapkan pidato selaku juru bicara Pemerintah. Maladi di
tugaskan untuk mengusahakan agar siaran RRI sudah dapat di mulai esok
harinya tanggal
22 Desember 1948.
Berhubung masih ada keberatan dari Komandan Pertahanan Letkol Hollan
Iskandar terhadap didirikannya antena di Tawangmangu, maka oleh Mayor
Suprapto ia diberi surat perintah untuk Letkol Hollan Iskandar , supaya
membantu RRI agar siaran-siaran dapat segera dimulai dan supaya pemancar
RRI dikawal dengan baik. Tawangmangu akan menjadi Yogy ke II Markas
Pemerintah RI darurat
RRI Saat Detik-detik Kemerdekaan Republik Indonesia
Pada tanggal
14 Agustus 1945
Bung Karno dan Bung Hatta tiba di Bandar Udara Internasional Kemayoran
dari Saigon. Jusuf Ronodipoero meliput di bandara. Dalam wawancaranya di
bandara, Bung Karno mengatakan bahwa untuk memperoleh kemerdekaan tidak
perlu menunggu jagung berbunga. Bung Karno mengutip ramalan joyoboyo,
dan pada waktu itu tidak ada yang tahu bahwa Kaisar Jepang telah
menyatakan menyerah kepada Sekutu. Pada tanggal
16 Agustus 1945
komplek radio tetap dijaga ketat oleh kampetai (tentara Jepang). Siaran
dalam negeri berjalan seperti biasa membawakan lagu-lagu Jepang dan
Indonesia, serta berita-berita yang masih menyatakan kemenangan Jepang.
Pada tanggal
17 Agustus 1945 pagi hari, siaran dalam negeri terus berjalan, dan berita disiarkan dari sumber
Domei
(Kantor Berita Jepang). Sekitar pukul 17.30, ketika pegawai
bersiap-siap berbuka puasa, seorang wartawan kantor berita Jepang
Syachruddin berhasil menyusup ke gedung radio dan ke ruang pemberitaan
dengan membawa teks proklamasi yang diterimanya dari Adam Malik untuk
disiarkan melalui radio. Pada pukul 18.00 petugas pemberitaan, siaran
dan teknik berunding di ruangan pemberitaan untuk mencari kesempatan
menyiarkan teks proklamasi. Petugas teknik menginformasikan bahwa studio
luar negeri yang tidak mengudara, berada dalam keadaan kosong. Studio
itu dapat dipergunakan dan petugas teknik mengatur line modulasi dari
sana bisa langsung ke pemancar 10 kw yang terletak di Tanjung Priok.
Tepat pukul 19.00 teks proklamasi dibacakan secara bergantian dalam
bahasa Indonesia oleh Jusuf Ronodipoero daj dalam bahasa Inggris oleh
Suprapto. Penyiaran teks proklamasi tersebut melalui radio di
Jakarta berlangsung berkali-kali selama 15 menit dan pembacaan yang sama dilakukan juga oleh
Radio Bandung.
Pada pukul 20.30 WIB para kampetai datang ke ruang pemberitaan karena
peristiwa penyiaran teks proklamasi telah diketahui oleh Jepang, dan
menyiksa seluruh petugas radio yang menyiarkan teks proklamasi, hal yang
sama juga dialami oleh Radio Bandung dihentikan pada pukul 21.00 WIB.
Dengan demikian bahwa radio sepeninggalnya Jepang di Indonesia
diserahkan sepenuhnya kepada Republik Indonesia, dan ini merupakan cikal
bakal dari berdirinya Radio Republik Indinesia dan hingga saat ini RRI
terus berjuang demi eksistensinya dibidang komunikasi dengan semangat
”Sekali di udara tetap diudara”.
Lahirnya Radio Republik Indonesia
Dengan dihentikannya siaran radio dari semua
Hoso Kyoku sejak tanggal
19 Agustus 1945.
Masyarakat menjadi buta berita. Yang sangat menggelisahkan masyarakat
adalah tidak diketahui apa yang harus dilakukan setelah Indonesia
diproklamasikan sebagai negara merdeka sejak
17 Agustus 1945.
Bagi orang radio semakin jelas, bahwa dalam situasi yang demikian,
siaran radio merupakan alat yang mutlak diperlukan oleh pemerintah
Republik Indonesia untuk berhubungan dan memberi tuntunan kepada rakyat,
apa yang harus dikerjakan.
Dari berita-berita radio luar negeri diketahui, bahwa yang akan
menduduki Jawa dan Sumatera adalah tentara Inggris atas nama sekutu.
Tugas mereka melucuti tentara Jepang dan memelihara keamanan, sampai
pemerintahan Belanda dapat menjalankan kembali kekuasaanya di Indonesia.
Dengan berita-berita itu kita ketahui, bahwa kedaulatan Belanda atas
Indonesia masih diakui oleh sekutu. Suatu pemerintahan yang disebut
"Netherlands Indie Civil Administration" disingkat NICA, akan didirikan
di Indonesia oleh pemerintah kerajaan Belanda.
Masalah yang akan dihadapi Republik Indonesia dalam waktu dekat adalah :
- Sebelum tentara Inggris datang, tentara Jepang akan memegang kuasa dari sekutu menjaga keamanan di Indonesia;
- Setelah tentara Inggris datang (menurut berita luar negeri akhir
September 1945), Pemerintah Republik Indonesia harus berhadapan dengan
tentara Inggris dan Nica.
- Setelah tentara Inggris selesai dengan tugasnya, pemerintah Republik
Indonesia harus berhadapan dengan tentara Belanda yang akan
menggantikan tentara Inggris.
- Jika Pemerintah Republik Indonesia berpegang teguh pada proklamasi
17 Agustus dengan UUD 45 yang mulai berlaku 18 Agustus 1945, Pemerintah
Republik Indonesia harus menolak beroperasinya tentara Inggris dan NICA
di wilayah kedaulatannya akan dilanggar.
Dalam menghadapi masalah-masalah tersebut,jelaslah,pemerintah RI
harus mempunyai hubungan yang cepat dan erat dengan seluruh rakyat yang
akan mrnjadi kekuatan utama.
Satu-satunya alat komunikasi ialah siaran radio.sesuai dengan
pemikiran sebelumnya,maka sebelum tentara Inggris mendart kita sudah
harus melaksanakan:
- Pembentukan satu organisasi siaran radio nasional.
- Menguasai semua pemancar di 8 stasiun radio didaerah Jawa.
Untuk itu tidak ada jalan lain,kecali mengadakan pertemuan dengan
wakil-wakil dari 8 bekas Hoso Kyoku. Tempat yang dipilih adalah Jakarta.
SUASANA MENJELANG 11 SEPTEMBER
Undangan sudah dikirim kepeda wakil-wakil stasiun di Jawa.
Teman-teman di Jakarta sudah diberi tahu dan semua sudah dipersiapkan
untuk melangsungkan konperensi tanggal
11 September.
Sementara itu, Mr.Oetoyo Ramelan,sebagai pemimpin radio yang tertinggi di
Hosokanri Kyoku
pada prinsipnya menyetujui prakarsa untuk mengadakan konperensi,tetapi
menyarankan supaya minta persetujuan lebih dulu dari Presiden,karena hal
ini menyangkut masalah politik dan kebijaksanaan pemerintah RI.
Namun,setelah menghadap di Pegangsaan Timur 56 tanggal
11 September, juru bicara pemerintah Sukarjo Wirjopranoto memberitahukan, bahwa hari itu presiden tidak dapat menerima delegasi radio.
Walaupun kesempatan untuk bertemu dengan Presiden belum
diperoleh,tetapi sautu kesempatan lain telah dimanfaatkan. Yaitu rencana
untuk menghadap Sekretaris Negara Mr.A.G. Pringgodigo jam 17.00 di
Pejambon. Sekretaris Negara akan mengadakan pertemuan dengan wakil-wakil
organisasi publisitas seperti pers dan lain-lain.Rencana ini disambut
hangat oleh kawan-kawan di Jakarta.
PERTEMUAN DI PEJAMBON
Pada tanggal
11 September sore jam 17.00 tepat, delegasi radio sudah siap di bekas gedung Raad Van Indje Pejambon, diterima oleh Sekretaris Negara.
Delegasi radio yang ikut dalam pertemuan adalah : Dr.Abdulrachman
Saleh,Adang kadarusman,Soehardi,Soetarji
Hardjolukita,Soemarmadi,sudomomarto,Harto dan Maladi. Dr.Abdulrachman
Saleh adalah ketua delegasi.Dalam pertemuan itu telah diuraikan garis
besar rencana sebagai berikut :
- Tentara Inggris sebagai kuasa sekutu akan mendarat di Jakarta pada
akhir September.Melihat tugas mereka di Indonesia,sudah dapat
diperhitungkan akan timbul bentrokan-bentrokan antara pasukan Inggris
dengan lasykar rakyat dan rakyat pada umumnya.karena rakyat menganggap
kedaulatan Republik Indonesia dilanggar dengan masuknya tentara asing di
wilayah Republik Indonesia.
- Setelah tentara Inggris menyelesaikan tugasnya,mereka akan diganti
dengan tentara Belanda yang pasti akan ditentang oleh rakyat
Indonesia.Pertempuran besar-besaran akan berkobar di seluruh Indonesia.
- Menghadapi kemungkinan kemungkinan tersebut,kekuatan utama bagi
Republik Indonesia adalah RAKYAT.Adalah kewajiban pemerintah untuk
memimpin perjuangan dan menggerakan kekuatan rakyat dengan strategi dan
taktik yang tepat.
- Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut,pemerintah harus mempunyai
hubungan yang cepat dan luas.Satu-satunya alat komunikasi yang dapat
memenuhi syarat tersebut hanyalah RADIO.Alat-alat komunikasi lainya
seperti telepon,telegraf,kereta api,pera dan lain-lain,selain kurang
cepat,juga dapat terputus dengan mudah dalam pertempuran-pertempuran.
- Berdasarkan pemikiran dan perhitungan tersebut,para pemimpin radio
dari 8 Hoso Kyoku di Jawa bertekad,untuk meng-organisir siran
radio,sebagai alat perjuangan dan alat komunikasi dengan rakyat.
- Untuk tujuan tersebut,akan dibentuk organisasi nasional siaran radio yang bersifat persatuan.
- Studio dan pemancar-pemancar radio Hoso Kyoku akan dijadikan modal
operasi persatuan tersebut,yang akan menuntut penyerahan alat-alat
tersebut dari Jepang.
- Struktur organisasi,personalia,strategi peluangan menghadapi Inggris dan kemudian Belanda akan dibicarakan dalam konperensi.
- Kepada pemerintah diminta persetujuannya atas rencana tersebut,serta
petunjuk-petunjuk dan bantuan dalam penyelesaianya denagn pihak Jepang
mengenai penyerahan pemancar radio.
Tanggapan para Menteri dan Sekretaris Negara terhadap penjelasan
delegasi radio dapat disimpulkan sebagai berikut: -Mereka tidak
menduga,delegasi radio akan mengajukan rencana yang mencakup aspek
politik yang demikian luasnya. -Dikatakan,pemerintah sedang memikirkan
pengaturan media masa pers,radio dan lain-lain.Untuk itu telah dibentuk
sebuah panitia negara yang diketahui Adam Malik.Tetepi,panitia tersebut
belum sempat merumuskan suatu konsepsi/rencana yang konkrit. -Mengenai
penyerahan pemancar-pamancar radio dari tangan Jepang memerlukan
pemikiran yang mendalam.Alat-alat tersebut sudah di daftar sebagai
inventaris Sekutu dan memerlukan pembicaraan dengan pihak
Sekutu.Penguasaan alat-alat tersebut dapat mengakibatkan bentrokan
dengan Jepang. -Perhitungan delegasi radio,bahwa kedatangan tentara
Inggris akan membawa pertempuran-pertempuran tidak dapat diterima oleh
pemerintah.
Dalam hubungan ini,delegasi radio mengambil sikap akan jalan terus,dengan rencana berdasarkan perhitungan peperangan.
Pada akhir pertemuan,Dr.Abdulrachman Saleh membuat resume sebagai berikut:
- Pada satu saat akan ditentukan lebih lanjut,akan menyatakan diri menjadi pegawai Republik Indonesia.
- Delegasi akan membentuk Persatuan Radio Republik Indonesia,yang akan meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa.
- Radio Republik Indonesia akan dipersembahkan kepada Presiden dan Pemerintah RI untuk alat hubungan dengan rakyat.
- Semua hubungan antara Pemerintah dengan Radio Republik Indonesia,hendaknya disalurkan hanya melalui Dr.Abdulrachman Saleh.
- Berhubungan dengan status penyiaran radio dalam pemerintahan belum
ditetapkan,maka untuk sementara waktu akan bekerja sebagai organisasi
tersendiri,dengan permohonan agar Pemerintah memberikan bantuan.
- Berhubung dengan kedatangan tentara Inggris yang mungkin disusul
oleh tentara Belanda,maka segala usaha akan diselenggarakan dengan
memperhitungkan faktor pertempuran.
- Mengenai penyerahan alat-alat radio dari tangan Jepang akan diatur sendiri,dan dimana perlu hendaknya Pemerintah memberi bantuan.
Walaupun mengenai beberapa hal Pemerintah tidak sependapat,namun di
sanggupi akan memberi bantuan kepada Radio Republik Indonesia.
RAPAT BERSEJARAH 11 SEPTEMBER
Pada jam 24.00 tepat pada rapat dimulai,bertempat di rumah Adang
Kadarusman du Menteng Dalam,dipimpin oleh Dr.Abdulrachman Saleh.Yang
hadir waktu itu :
Jakarta : Adang Kadarusman
Soeriodipuro
Tjatja
Jusuf Ronodipoero
Soekasmo dan Sjawal
Muchtaruddin.
Bandung : Darya . Sakti Alamsyah dan Agus Marahsutan Purwokerto :
Soetaryo Yogyakarta : Soemarmad,dan Soedomomarto. Semarang : Soehardi
dan Harto. Surakarta : Maladi dan Soetardi Hardjolukito.
Surabaya dan Malang tidak ada wakil.
Rapat dengan acara tunggal "Perjuangan kita" dipimpin oleh Dr.